"Banyak kendala, salah satunya, Jumlah kandungan DNA yang relatif sedikit dalam sampel tulang dan gigi dibandingkan dengan orang lain," ujar Djadja dalam jumpa persnya terkait penemuan terbaru DNA Tan Malaka, di Wisma Shalomn, Jl Kramat Pulo, Jakarta Pusat, Senin (9/1/2012).
Menurut Djadja, beberapa kendala yang dialami di antaranya sampel DNA sudah sangat terdegradasi akibat lamanya waktu yang kini sudah mencapai 60 tahun. Selain itu, sampel terendam air akibat terkubur pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kini berada di Selopanggung, Kediri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna melakukan identifikasi DNA yang lebih mutakhir, saat ini sampel DNA itu ada berada di Amerika dan Australia. Menurutnya, di luar negeri sudah ditemukan metode baru untuk pengecekan tes DNA.
"Metode baru itu dikenal dengan Low Number Copy, Jadi dengan alat ini nanti kita tak perlu lagi membutuhkan sampel yang terlalu banyak. Beda dengan sebelumnya yang di Korea Selatan ini banyak menghabiskan sampel," pungkasnya.
Tim memperkirakan hasil DNA Tan Malaka, akan dikeluarkan pada awal November 2012. "Kita tidak bisa memperkirakan peluang apakah jasad tersebut positif Tan Malaka atau tidak," tutupnya.
(gah/gah)











































