Kematian mendadak burung Merpati peliharaan Puguh disinyalir sebagai biang awal ia tertular penyakit mematikan ini. Berikut kronologi lengkap dari Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta:
23 Desember 2011
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
31 Desember 2011
Kondisi Puguh mulai demam dan menggigil. Puguh lalu mengkonsumsi obat bebas untuk penurun panas.
3 Januari 2012
Puguh berobat ke rumah sakit, dengan keluhan demam tinggi, mual, lemas dengan suhu tubuh 39,2 derajat celcius.
4 Januari 2012
Oleh dokter, pasien dicurigai menderita flu burung karena kondisi pasien yang tidak membaik, timbul sesak napas dan ditemukan faktor risiko kontak dengan burung Merpati peliharaannya yang sakit dan mati satu minggu sebelum pasien mulai sakit.
6 Januari 2012
Puguh masuk Ruang ICU. Hasil pemeriksaan, terjadi perburukan thorax.
7 Januari 2012
Sekitar pukul 11.00 WIB, kondisi pasien dilaporkan ke dinas kesehatan provinsi DKI Jakarta. Pasien langsung direncanakan dirujuk ke rumah sakit rujukan flu burung. Karena RSPI Sulianti Saroso kondisi ICU penuh pasien, kemudian dirujuk ke RSU Tangerang. Pasien dirujuk menggunakan ambulance RSPI Sulianti Suroso.
Sekitar pukul 22.50 WIB, Puguh meninggal dunia.
Puguh meninggal dunia setelah mengalami panas demam berkepanjangan semenjak malam tahun baru.
"Masih kami selidiki. Saya belum memastikan. Kami sudah menurunkan tim investigasi ke lokasi untuk mencari sebab meninggalnya puguh," kata Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Dien Emmawati, saat dihubungi detikcom, Senin, (9/1/2012).
Puguh yang tinggal di Jalan Baru Ancol Selatan RT 10/6 No 30 Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara sempat dilarikan ke RS Satyanegara, Sunter. Puguh sehari-hari bekerja sebagai tukang las di sebuah berngkel di kawasan Sunter Garden.
"Kami memberikan obat kepada keluarga dan tetangga. Apabila dalam waktu 2 hari mengalami gejala demam maka segera harus dibawa ke rumah sakit," beber Dien. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi merebaknya virus flu burung.
(gun/lrn)










































