Gaya Koalisi Mega Membuat Pemilih Sinis
Sabtu, 24 Jul 2004 09:57 WIB
Denpasar - Strategi koalisi di tingkat elit politik yang menjadi gaya Mega justru membuat pemilih mencibirnya dengan sinis. Sedangkan gaya SBY yang langsung ke grass root mendapat simpati pemilih.Mega belakangan ini memang mendekati elit politik dari parpol yang kandidatnya kalah di babak pertama Pilpres. Seperti Akbar Tandjung, Gus Dur, Hamzah Haz, dan Siswono Yudo Husodo."Strategi semacam itu merupakan kesalahan, dan itu merupakan paradigma lama dalam melihat peta politik Indonesia."Demikian disampaikan pengamat politik Andi Mallarangeng dalam perbincangan dengan detikcom ketika ditemui di Pertenunan Berdikari jalan Ciung Wanara Denpasar Bali, sabtu (24/7/2004)."Saya khawatir Ibu Mega akan melakukan kesalahan yang sama dengan Wiranto, yaitu mengandalkan koalisi pada tingkat elit, yang kemudian membuat orang menjadi sinis dengan cara-cara seperti itu. Karena dianggap seperti dagang sapi dan bagi-bagi kursi," jelasnya.Menurut Andi, rakyat sudah lebih otonom dalam menentukan pilihan. Tidak lagi tergantung kepada para elit politik. Apalagi sekarang elit politik tidak lagi punya kemampuan untuk memerintahkan pendukungnya dalam menentukan pilihan.Menurut analisanya, posisi Mega lebih sulit ketimbang SBY pada putaran dua Pilpres. Sebab Mega membutuhkan tambahan lebih dari 24 persen suara untuk meraih kemenangan. Sementara SBY tinggal membutuhkan tambahan 17 persen suara."Yang lebih gawat lagi, lebih dari 73 persen pemilih menginginkan perubahan dan pergantian pemerintahan. Pemilih yang mencoblos SBY, Wiranto, Amien, dan Hamzah pada dasarnya menginginkan posisi Mega harus diganti orang lain," jelas Andi.Strategi SBY yang dinilainya paling tepat, adalah dengan langsung ke grass root, bukan dengan elit politik. Menurutnya, cara seperti itu jauh lebih positif dan efektif."Jika SBY menang, koalisi baru akan dibentuk setelah dirinya ditetapkan untuk membentuk pemerintahan sehari-hari," ujarnya.Dikonfirmasi soal namanya yang masuk dalam selebaran kabinet bayangan SBY-Kalla sebagai Menteri Otonomi Daerah, Andi tertawa ngakak. "Saya tidak punya komentar. Saya tidak tahu itu versi siapa," kilahnya.
(sss/)











































