"Secara umum, kita akan lebih banyak basah. Akhir tahun ini cenderung basah. Artinya lebih panjang basahnya dibanding keringnya (kemarau)," kata pengamat iklim dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Armi Susandi, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (6/1/2012).
Hal ini terjadi karena faktor global berupa penguapan yang lebih tinggi. Selain itu adaΒ
pula pengaruh regional seperti faktor tingkat polusi yang lebih tinggi. Zat partikulatΒ
yang dihasilkan oleh sumber-sumber polusi udara membentuk nuklei kondensasi awan. Hal ini mendorong pembentukan awan sehingga meningkatkan kemungkinan hujan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang sedikit membedakan dari tahun lalu adalah sebaran distribusi hujan. Tahun ini hujan lebih merata di hampir semua wilayah Indonesia," kata Armi.
Di musim penghujan seperti sekarang ini perlu juga diwaspadai terjadinya banjir pada saat bulan purnama. "Perlu diawasi pada saat bulan purnama. Karena bulan purnama mengakibatkan air laut pasang. Nah, dengan pasangnya air laut plus curah hujan yang sedang tinggi, maka kemungkinan bisa terjadi banjir," terang alumnus Universitas Hamburg, Jerman, ini.
Bulan purnama pada Januari ini jatuh antara tanggal 8-15.
(vit/nrl)











































