SBY Bantah Pembagian Komposisi Kabinet
Jumat, 23 Jul 2004 15:04 WIB
Jakarta - Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membantah pihaknya sudah membicarakan komposisi 40% untuk koalisi parpol dan 60% untuk profesional dalam kabinetnya. Menurutnya hal itu baru akan dibicarakan usai pemilu presiden putaran kedua September mendatang.Demikian dikatakan SBY usai sholat Jumat, sekaligus bertemu dengan sekitar 200 orang anak jalanan di Masjid Al Azhar, Jl. Sisingamaraja, Jakarta Selatan, Jumat (23/7/2004)."Siapa bilang?" kata SBY balik bertanya pada wartawan. Ketika diberitahu bahwa pernyataan tersebut dikeluarkan oleh pasangannya cawapres Jusuf Kalla, SBY tetap membantah hal tersebut."Tidak begitu, belum, kita belum ngomong itu. Tapi yang jelas komunikasi politik masih berjalan," tegas SBY.Sebelumnya, Kamis (22/7/2004) kemarin Kalla secara terang-terangan menyampaikan kepada wartawan mengenai pembagian komposisi kabinet itu usai bertemu dengan ketua umum PPP Hamzah Haz. Kabarnya dalam pertemuan itu Kalla juga menawarkan jatah kabinet.SBY kembali menjelaskan bahwa dirinya sudah sering membahas soal isu koalisi ini. Dia menngatakan koalisi terbatas belum dibicarakan karena masih menunggu pilpres putaran kedua."Kita punya pengalaman, kalau semua menjadi koalisi pelangi itu tidak efektif. Karena ada parpol yang di pemerintahan dan ada juga bagian yang di oposisi, itu yang akan kita bangun nanti," kata SBY.Lebih lanjut SBY mengatakan, harus ada check dan balance serta adanya suatu platform politik antara eksekutif dan legislatif dalam pemerintahan mendatang. Menurutnya terlalu dini untuk mengatakan koalisi dengan partai mana pun."Yang jelas siapa pun yang menang dan kalah adalah bagian dari proses pemilihan presiden. Bila bicara soal komponen politik, siapa pun bisa berperan ke depan nantinya. Terserah siapa saja yang jadi oposisi dan siapa yang jadi bagian dari pemerintah," lanjut dia.Menanggapi soal kabinet bayangan, SBY mengatakan bahwa hal itu belum menjadi pemikirannya, walau diakuinya masyarakat memang ingin tahu. "Tapi ini bisa menjadi kontra produktif karena memang setiap kandidat belum bisa menjelaskan soal itu," demikian SBY.
(fab/)











































