"Jadi ketika kami sosialisasi dari Stasiun Bojong Gede nggak ada yang naik. Di Citayam nggak ada, di Cilebut juga nggak ada. Eh di Depok Lama orangnya naik di atap lagi," ujar Kepala Penertiban PT KAI Daops I, Akhmad Sujadi, kepada detikcom, Kamis (5/1/2012).
Menurut Sujadi, ustaz dan kelompok marawis diikutsertakan dalam sosialisasi dengan alasan menyentuh jiwa penumpang agar turun dari atap KRL. Selama ini, trik-trik 'mengusir' penumpang dengan cara menyemprot zat berwarna dan penerapan pintu koboi tidak mempan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kami bayar dengan uang lelah," imbuhnya.
Pada 11 Januari 2012 mendatang, lanjut Sujadi, penumpang KRL akan menerima akibatnya jika terus naik di atap KRL. Namun untuk saat ini, pihaknya masih akan menegur saja penumpang yang bandel itu.
Sementara menanggapi penumpang yang naik atap karena sesaknya kereta, menurut Sujadi, penumpang harus bisa naik kereta berikutnya jika kereta yang akan dinaiki penuh.
"Jadi harus naik KRL berikutnya. Selama ini mereka alasannya takut telat makanya naik di atap," terang Sujadi.
(nik/vit)











































