"Pak Bibit itu mumpuni dalam berbagai hal. Ada dua kekurangan beliau yang selama ini tidak juga dilakukan, beliau tidak pernah bertanya dan membaca," ujar Rudy kepada wartawan di Solo, Rabu (4/1/2012).
Rudy kemudian memaparkan langkah Pemkot Surakarta memutuskan memilih mobil 'Esemka' rakitan para siswa SMK di Solo sebagai mobil dinas walikota dan wakil walikota adalah untuk menarik perhatian luas, karena Pemkot merasa sudah lelah menunggu kepastian dari Dirjen Perhubungan Darat terkait izin operasional mobil tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam rangka itulah kemarin kami berusaha menarik perhatian publik agar semua pihak memberi apresiasi, memperhatikan dan mendukung karya anak-anak kita sendiri. Seharusnya Pak Bibit bertanya dulu, setelah itu Pak Bibit membaca peta situasinya. Tapi dari dulu dalam banyak hal Pak Bibit sering menanggapi persoalan sebelum terlebih dulu bertanya dan membaca," tegas Rudy.
Lebih lanjut Rudy menjelaskan, dampak positif dari gebrakan yang dilakukan Pemkot Surakarta, saat ini semua pihak telah memberikan perhatian terhadap karya mobil 'Esemka' tersebut. Dia berharap, Pemerintah Pusat segera memberikan perhatian dengan segera memproses perijinan mobil Esemka bagi kemajuan teknologi di tanah air dan penghematan anggaran.
Sebelumnya Bibit Waluyo menilai Pemkot Surakarta betindak sembrono. Menurutnya, sebuah produk kendaraan yang bisa dipakai di tempat umum harus terlebih dilakukan uji kelaikan, memenuhi standar keselamatan, dan dilengkapi dengan sertifikasi yang jelas. Tanpa memenuhi berbagai kriteria itu, kendaraan tersebut belum bisa dipakai di jalanan umum, apalagi jika dipakai sebagai kendaraan dinas seorang pejabat.
(mbr/anw)











































