"Sebelumnya kita pakai spanduk dan imbauan melalui media, tapi kebanyakan dibaca sekilas saja oleh penumpang," kata Kepala Penertiban PT KAI Daops I Ahmad Sujadi kepada detikcom, Rabu (4/1/2012).
Sujadi mengatakan, sosalisasi ini dilakukan sejak 2 Januari 2011. Hari ini sosialisasi dilakukan di Stasiun Cilebut. PT KAI mengundang ustad yang sudah dikenal di kawasan tersebut. Para ustad diberi kesempatan untuk memberikan ceramah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sujadi mengatakan, telah menyiapkan tempat khusus di Stasiun Cilebut. Kemudian ustad itu diberi kesempatan berceramah. "Kita sudah siapkan tikar, di belakangnya kita kasih spanduk mengenai bahaya naik di atap kereta," katanya.
Selain ustad, PT KAI juga menggunakan kesenian marawis untuk mengimbau penumpang agar tidak naik di atap kereta. Kesenian marawis ini dibawakan oleh sebuah yayasan di Citayam. Anggota yayasan ini dulunya adalah orang-orang yang sering naik di atap kereta, namun mereka sekarang sudah sadar dan tidak naik di atap gerbong lagi.
"Kita sudah ada lagu-lagu khusus yang mengimbau agar penumpang tidak naik di atas kereta," katanya.
Sujadi mengatakan, pada 11 Januari mendatang PT KAI baru akan mengadakan penindakan terhadap para penumpang yang naik di atas kereta. PT KAI benar-benar bertindak tegas dan akan membawa para penumpang yang naik di atas kereta ke proses hukum.
"Saat ini saya akan ke polsek-polsek yang dilewati kereta untuk mengadakan pertemuan dengan petugas," katanya.
Sebelumnya, PT KAI menggunakan cara menyemprot zat berwarna kepada penumpang bandel itu. Penerapan pintu koboi juga dilakukan. Tapi trik-trik ini tidak mempan.
Sementara, penumpang terpaksa naik ke atap dengan alasan di dalam gerbong sudah sangat penuh sehingga sulit masuk. Kereta memang moda favorit para komuter karena tiketnya murah meriah.
(nal/nrl)










































