Polda Metro Jaya Incar Bos Mafia Narkoba di Tahun 2012

Polda Metro Jaya Incar Bos Mafia Narkoba di Tahun 2012

- detikNews
Selasa, 03 Jan 2012 11:44 WIB
Polda Metro Jaya Incar Bos Mafia Narkoba di Tahun 2012
Jakarta - Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Nugroho Aji mengatakan, peredaran narkoba di tahun 2012 tidak akan berhenti. Di tahun 2012 ini, pihaknya sendiri menargetkan operasi mulai dari hulu yakni di tingkat bos mafia narkoba.

"Di tahun 2012 ini, kita prioritaskan untuk memangkas peredaran narkoba di tingkat atas mulai dari produsen, importir, bandar dan pengedar," ujar Nugroho kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (3/1/2012).

Nugroho mengatakan, pihaknya mengkonsentrasikan untuk memberantas peredaran narkoba di tingkat produsen hingga pengedar, karena pelaku adalah yang mendapat keuntungan dari bisnis haram tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau pengguna kan mereka hanya korban, sementara yang menikmati keuntungan ya para bandar, produsen dan pengedar," imbuhnya.

Terkait peredaran narkotika, Nugroho mengatakan, penyelundupan diprediksi terus berlanjut. Kemungkinan, lanjutnya, modus penyelundupan akan tetap sama seperti di tahun-tahun sebelumnya.

"Modusnya diselundupkan melalui jalur darat, laut atau udara, masih tetap sama," katanya.

Nugroho menambahkan, penyeludupan narkotika dari luar negeri hampir mendominasi yakni mencapai 95 persen. Para importir narkoba itu pun melibatkan jaringan warga negara asing.

"Seperti shabu, ekstasi, heroin, kokain itu dari luar negeri kebanyakan," tambahnya.

Untuk narkotika jenis shabu, kata dia, biasanya diselundupkan dari Iran dan Malaysia. Dalam penyelundupan ini, para pelaku menyelundupkan barang haram dengan cara memaketkan barang tersebut.

"Ada yang ditransitkan dulu ke Malaysia, Singapura atau Hongkong," imbuhnya.

Setelah barang tersebut berada di Malaysia, pengiriman paket dilanjutkan melalui jalur laut, darat atau udara.

"Kalau jalur laut bisa melalui perairan Aceh, Medan, Pekanbaru atau Tanjung Pinang dengan menggunakan kapal kecil," katanya.

Sementara narkotika jenis ekstasi, biasanya dikirim dari negeri kincir angin, Belanda. Modus penyelundupannya pun hampir serupa, melalui jalur udara, laut atau darat dengan mengubah kemasannya.

"Kalau kokain itu dari Afrika Selatan dan heroin itu dari India," imbuhnya.

Nugroho mengatakan, di tahun 2012 ini, clandestain laboratorium di Jakarta semakin kecil kemungkinannya. Pasalnya, selain produksinya tidak terlalu maksimal, kualitas yang dihasilkan peracik lokal pun kurang memberikan benefit bagi pelaku pengedaran narkotika.

"Untuk clandestain lab ini sangat kecil kemungkinannya karena resiko gagal produksinya besar dan kualitasnya juga kurang bagus, makanya mereka sekarang lebih memilih diimpor dari luar," terangnya.

Selain masalah peredaran narkotika yang melibatkan jaringan internasional, polisi juga berkonsentrasi penuh untuk memberantas peredaran narkoba di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Seperti Kampung Ambon, misalnya, tetap menjadi perhatian polisi.

"Kampung Ambon tetap kita prioritaskan," ujarnya.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya, jumlah kasus narkotika pada 2011 mencapai 4.694 kasus dan dapat diselesaikan sebanyak 4.395 kasus atau sebesar 93,63 persen. Angka tersebut menurun dibanding tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2010, total kasus narkoba mencapai 4.989 kasus atau menurun 5,91 persen.

Dari 4.395 kasus narkotika yang diselesaikan di wilayah Polda Metro Jaya, polisi telah menetapkan 5.364 tersangka (5.047 laki-laki dan 317 perempuan). Berdasarkan kelompok usia 10-18 sebanyak 227 orang, usia 19-27 sebanyak 1.814 orang, 28 tahun ke atas sebanyak 3.323 orang.

Dari kasus tersebut, kepolisian menyita barang bukti berupa 1.151 Kg ganja, 2,66 kg heroin, 115,54 Kg sabu, 305.366 butir ekstasi dan lain-lain.

(mei/lia)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini