Waspadai Riak Kekerasan Menggeliat di 2012

Waspadai Riak Kekerasan Menggeliat di 2012

- detikNews
Selasa, 03 Jan 2012 11:37 WIB
Jakarta - Menjelang pergantian tahun dan di awal 2012 ini, peristiwa kekerasan menjadi konsumsi publik. Riak-riak kekerasan sudah terlihat di awal tahun ini. Karena itu semua pihak harus waspada riak ini akan menggeliat.

"Riak kekerasan tetap ada. Ada sejumlah hari nasional yang bisa membangkitkan aktivitas 'sakral' dan berpotensi memicu adanya kekerasan. Saya rasa di bulan tertentu situasi akan memanas. Ini tantangan yang harus dihadapi, riak-riak ini akan menggeliat," kata pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (3/1/2012).

Wawan mencontohkan peringatan Mayday atau Hari Buruh pada 1 Mei. Ketika banyak orang berkumpul, gesekan-gesekan akan sangat mudah terjadi. Karena itu semua pihak harus waspada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada dinamika politik yang terjadi. Semua pihak harus berpikir lebih jauh, jangan merusak. Ada saluran yang tidak boleh tersumbat. Kalaupun tersumbat maka yang ditempuh adalah jalur hukum. Jangan gampang menyerang apalagi menembak," sambung dia.

Dia menambahkan kondisi politik sangat dinamis. Kerusuhan bisa terjadi dalam hitungan detik. Kerusuhan bisa terjadi tanpa perencanaan matang, lantaran muncul karena emosi sesaat.

"Pergerakan massa bisa memancing kerusuhan. Perlu diingat juga kerusuhan ini bisa dimunculkan pihak dalam atau luar. Harus disadari di banyak tempat banyak sekali yang terlibat dari unsur asing, mereka juga bermain. Kita tidak boleh menari di atas genderang mereka, lantas terbawa arus. Perlu kewaspadaan nasional bersama-sama," tutur Wawan.

Dia berpendapat, dialog harus terus dikedepankan untuk meminimalkan perbedaan pendapat yang berujung pada terjadinya konflik. Selain itu juga perlu upaya peningkatan kesejahteraan.

"Kesejahteran itu masalah penting. Karena ada pelaku kerusuhan itu merupakan orang bayaran. Kita juga sama-sama berharap kedewasaan politik lebih diperhatikan. Pemilukada akan terus digelar, hasilnya akan ada yang kalah dan menang. Kalau nggak siap kalah jangan ikut," saran dia.

Selain itu persoalan benturan aliran dalam keagamaan yang sudah berkali-kali terjadi di negeri ini juga tak boleh dibiarkan. Perlu didorong peran serta tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk meningkatkan toleransi.

"Intelijen masih diperlukan sebagai support of information. Dari informasi ini bisa jadi masukan dalam pengambilan keputusan instansi-instansi pemerintah, termasuk para penegak hukum. Masalah kekerasan yang marak itu PR bersama, bukan PR satu instansi saja," papar Wawan.

Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini di Tanah Air antara lain pembakaran rumah dinas Bupati Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Selain itu pembakaran madrasah dan rumah warga Syiah di Sampang, Madura. Kekerasan berupa penembakan juga belum lama terjadi di Aceh.

(vit/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads