"Sampai sekarang belum ada untuk itu," ujar Dahlan saat berbincang dengan detikcom di sebuah restoran di kawasan SCBD, Senin (2/1/2012) malam.
Dahlan mengaku, sebenarnya tawaran bagi dirinya untuk memegang jabatan politis sudah datang saat dirinya masih memimpin Jawa Pos. Ia pernah didaulat oleh seorang tokoh di Surabaya untuk dijagokan menjadi Gubernur Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Dahlan memikirkan nasib-nasib anak buahnya di Jawa Pos. Bila ia mencalonkan diri dan kemudian terpilih menjadi orang nomor satu di Jawa timur, mungkin hal itu akan menyulitkan anak buahnya untuk mengkritisi setiap kebijakannya.
"Dan saat itu saya umumkan di rapat redaksi, bahwa memang benar saya didaulat. Tetapi supaya tidak ingin menyulitkan Anda-Anda (anak buahnya). Saya memilih tidak, dan saat itu diteriaki hore oleh semua karyawan saya," kenang Dahlan.
Sejak saat itu waktu terus berputar, Dahlan pun sudah kini sudah meninggalkan Jawa Pos. Lalu apakah ada keinginan untuk masuk dunia politik?
"Waktu di PLN anak buah saya 100 ribu, kalau saya masuk parpol pasti akan sulit diterima, apalagi setelah saya di BUMN. BUMN itu menjaga aset Negara, tidak boleh ada kepentingan pribadi atau golongan," imbuh Dahlan yang tetap menolak disebut sebagai Capres alternatif ini.
(her/ndr)











































