Sebelum Tewas di Somalia, dr Andrias Ingin ke Afghanistan

Sebelum Tewas di Somalia, dr Andrias Ingin ke Afghanistan

- detikNews
Jumat, 30 Des 2011 15:11 WIB
Jakarta - dr Andrias Karel Melkianus Keiluhu tewas setelah tubuhnya ditembus peluru pria bersenjata di Somalia. Rupanya beberapa waktu sebelumnya, dr Andrias sempat menyatakan keinginannya untuk bertugas di Afghanistan. Namun sang istri tak memberinya izin.

"Bapak sempat bilang saat di Somalia ingin pindah ke Afghanistan, tapi saya nggak kasih," kata istri dr Andrias, dr Carlamia H Lusikooy, saat ditemui detikcom di kediamannya, Jl Kenari, Bintaro, Tangerang, Jumat (31/12/2011).

"Memangnya kamu pikir Afghanistan lebih parah dari Somalia. Somalia itu jauh lebih berat daripada Afghanistan sebenarnya," ujar dr Carla menirukan ucapan sang suami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, ibu dua anak itu tetap tak mengizinkan suaminya pindah lokasi kerja ke Afghanistan. Keamanan menjadi alasan utama dr Carla tidak mengizinkan dr Andrias pindah.

Dia menuturkan kiprah dr Andrias dimulai pada 1997 saat menjadi pegawai tidak tetap (PTT) di Papua yang saat itu masih bernama Irian Jaya. Pria alumnus Universitas Hasanuddin Makassar itu menangani penyakit malaria yang mewabah di sana.

"Dia yang bilang kepada Dinas Kesehatan kelaparan yang terjadi di Irian bukan karena kekurangan makanan, tetapi karena wabah malaria yang menjangkiti wilayah tersebut. Awalnya ditolak pihak Dinas Kesehatan. Namun setelah Dinas Kesehatan turun ke lapangan, mereka mengakui bahwa itu merupakan akibat dari malaria," papar perempuan kelahiran Ambon itu.

Di Irian saat itu terdapat Medecins Sans Frontieres (MSF), sebuah organisasi kemanusiaan, yang kemudian menawari dr Andrias untuk bergabung. Di bawah naungan MSF, dr Andrias semakin masif bergerak membantu warga di Irian yang mengalami masalah kesehatan. Saat itu, dia belum menjadi pegawai penuh melainkan hanya staf lokal.

"Tahun 2001, karena kondisi keamanan Irian tidak kondusif dan adanya panggilan MSF untuk bekerja di Jakarta maka kami pindah ke Jakarta pada bulan Oktober," imbuh perempuan yang menjadi Kepala Instalasi Rehabilitasi Napza di RSKO Cibubur ini.

Setelah beberapa tahun di Jakarta, dr Andrias kemudian mengikuti misi MSF saat tsunami Aceh tahun 2004. "Bapaklah orang pertama yang menghubungi Depkes bahwa bencana tsunami Aceh adalah bencana nasional," kenang dr Carla dengan mata sembab.

Setelah 3 bulan di Aceh, dr Andrias lantas pindah ke Thailand pada 2005 tepatnya di Kota Chiang Mai. Di sana dr Andrias menangani penderita HIV. "Akhir 2010 setelah mengerjakan proyek di Thailand, sekitar November atau Desember ke Somalia," tutur dr Carla.

Informasi dari MSF, dr Andrias yang akrab disapa Kace itu telah bekerja dengan MSF sejak 1998 di Indonesia, Ethiopia, Thailand dan Somalia. Dia dan rekannya dari negara Belgia, Phillipe Havet (53) ditembak hingga tewas pada Kamis (29/12).

Penembakan diduga dilatarbelakangi sakit hati pelaku. Pelaku yang merupakan pria 
Somalia, baru saja dipecat dari MSF, lembaga kemanusiaan berbasis di Belgia. Phillipe tewas seketika, sedang dr Andrias menyusulnya karena pendarahan yang hebat setelah 
dioperasi di RS Madina.

Phillipe dan Kace bekerja dengan MSF di Mogadishu untuk memberikan bantuan darurat medis kepada para pengungsi negara yang terkoyak akibat perang saudara itu.

dr Andrias lahir di Manokwari pada 30 Mei 1967. Dia meninggalkan seorang istri dan 2 orang anak yang berumur 14 dan 12 tahun.

(vit/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini