"Kapolda NTB, komandan satuan, kapolres sebaiknya diperiksa, apakah ada perintah menyerbu massa dan tembak ditempat," ujar pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar kepada detikcom, Jumat (30/12/2011).
Melihat aksi refresif polisi saat menangani aksi warga di Bima, Bambang melihat ada satu gerakan teroganisir yang memunculkan ketegangan. Bambang meyakini tidak mungkin para bintara bergerakan sedemikian garang tanpa ada perintah atasannya.
"Kalau ada rentetan demikian tidak mungkin bintara, pama (perwira pertama) bergerak tanpa ada perencanaan. Brimob ada di polda diback up polres jadi ada perintah kapolda bukan bergerak sendiri," kata Bambang.
Bambang juga mendorong agar Tim Internal berani memeriksa Kapolda NTB yang pada saat bentrok berdarah terjadi bertindak sebagai komandan di lapangan. Jangan sampai masyarakat menilai pemeriksaan ini subjektif hanya bawahan yang dikorbankan.
"Harusnya pemeriksaan lengkap jangan sepotong-potong. Jangan terkesan hanya bawahan yang dikorbankan," pinta Bambang.
Agar pemeriksaan terlihat lebih objektif, Bambang menyarankan agar Tim Internal juga bisa meminta informasi kepada Komnas HAM. Jika pemeriksaan hanya menyentuh tataran bawah kekecewaan publik kepada polisi akan semakin kuat.
"Setelah pemeriksaan diumumkan ke publik dan dianggap selesai, masyarakat akan menilai pemeriksaan pilih kasih," tandasnya.
Tim Internal yang dipimpin oleh Irwasum, Komjen Pol Fajar Prihahantoro sudah memeriksa 100 anggota yang terlibat bentrokan. 3 Anggota polisi, berinisial Bripda F dari Brimob Polda NTB dan dua reserse Polda NTB berinisial Briptu S dan Briptu F terbukti melakukan pelanggaran disiplin.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada sekitar pukul 07.00 WITA, Sabtu (24/12/2011) terjadi bentrokan antara polisi dengan sekelompok warga yang memblokade Pelabuhan Sape, NTB. Ada dua orang peserta aksi blokade yang dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut.
Aksi blokade ini merupakan unjuk rasa warga kepada Bupati Bima Ferry Zulkarnaen agar mencabut izin operasi PT Indo Mineral Persada dan PT Sumber Mineral Nusantara di Sambu dan Sape dengan alasan merusak sumber air satu-satunya bagi irigasi setempat.
(did/did)











































