Seskab Bantah Keretakan Hubungan Presiden SBY dengan Menlu

Seskab Bantah Keretakan Hubungan Presiden SBY dengan Menlu

- detikNews
Kamis, 29 Des 2011 19:01 WIB
Jakarta - Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam membantah pemberitaan sejumlah media bahwa telah terjadi keretakan hubungan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa. Menurutnya, berita itu sama sekali tidak benar.

"Itu adalah laporan yang nonsense sama sekali," kata Dipo dalam jumpa pers di Ruang Serbaguna Setneg, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (29/12/2011). Hadir dalam jumpa pers Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha dan Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah.

Dipo menjelaskan, posisi Menlu yang berada di baris kedua saat pelantikan 26 duta besar di Istana Negara beberapa waktu lalu, tidak bisa diartikan bahwa telah terjadi keretakan hubungan antara Presiden dan pembantunya itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau itu (duduk di baris kedua) dibilang itu ada kekurangnnya, saya yang salah," kata Dipo.

Seharusnya, kata Dipo, Menlu berada di barisan depan bersama Presiden, Wapres, tiga Menteri Koordinator Bidang, Sesneg, Seskab dan seterusnya. Dipo mengatakan persoalan Menlu ada di baris kedua dalam pelantikan dubes hanyalah masalah teknis.

"Saat itu, saya dan Pak sudi sedang berdiskusi, termasuk dengan Pak Menlu, berdiskusi dengan menteri-menteri lain. Karena kita sibuk diskusi dan kebetulan announcement kedatangan presiden itu jaraknya pendek, maka deretan depan itu sudah ada tiga menko, terus ada menteri-menteri lain. Jadi hanya masalah itu. Tidak ada kaitannya menlu berada di baris kedua, terus dikatakan hubungan menlu dan presiden itu retak," paparnya.

Dipo menegaskan, hubungan Presiden dan Menlu baik-baik saja. Bahkan, katanya, komunikasi presiden dan pembantunya itu termasuk intens.

"Pak Marty itu setiap hari SMS memberi laporan kepada presiden, dengan tembusan, Sesneg dan Seskab," ujarnya.

Isu keretakan Presiden dan Menlu ini muncul setelah Menlu menyatakan penempatan 2.500 pasukan AS di Darwin akan memicu ketegangan dan ketidakpercayaan di kawasan. Kabarnya, Presiden AS Barack Obama tidak suka atas pernyataan Marty dan mengadukannya ke SBY.

(lrn/did)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini