"Ketika presidennya sekarang beritanya dimiringkan, ia tidak bersedia meluruskan berita itu. Jadi menteri mau, tapi dalam kebersamaan kabinet ini, ketika ada berita-berita yang miring, ia enggan meluruskan," kata Dipo Alam.
"Saya kritik itu menteri-menteri seperti itu. Dan jangan lupa, termasuk diri saya sendiri, bahwa reshuffle tidak berhenti kemarin. Ya reshuffle kabinet, ini pendapat saya," imbuh Dipo dalam jumpa pers di Ruang Serbaguna Setneg, Jl Veteran, Jakpus, Kamis (29/12/2011). Hadir dalam jumpa pers Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha dan Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak mau mengatakan sekarang, tapi saya membuat catatan-catatan," ujarnya.
Dalam perombakan kabinet Oktober lalu, Presiden SBY pernah menyatakan reshuffle kali itu adalah yang terakhir karena gonta-ganti menteri akan menimbulkan instabilitas. Namun, Dipo mengatakan, tetap memonitor dan melaporkan kepada presiden terkait tindakan para menteri-menterinya.
"Saya memonitor terus menteri-menteri yang harusnya dia berbicara tapi diam saja di dalam tanggung jawabnya dia. Saya memonitor dan saya laporkan kepada Presiden. Humasnya, menterinya, harus bersama-sama, karena kita ini sama-sama, pemerintahannya sama, mereka diangkat oleh Presiden, pembantu Presiden, bertanggung jawab kepada Presiden, bukan partainya. Kalau tidak mau ya jangan jadi menteri, " tegasnya.
Dipo mengatakan, peringatan yang ia sampaikan ini adalah adalah karena tugasnya sebagai sekretaris kabinet.
"That's my job, part of my job sebagai sekretaris kabinet, manajemen kabinet. Kalau mereka tidak mau turut berpartisipasi di dalam masalah informasi, I'll make a note, bukan UKP4 saja yang buat note. I do make a note kepada rekan-rekan saya yang tidak mau sharing informasi," ujarnya.
(nal/nal)











































