Duka di Pantai Timur Sumatera

Perburuan Sahabat Manusia (1)

Duka di Pantai Timur Sumatera

- detikNews
Kamis, 22 Jul 2004 15:21 WIB
Bagansiapi-api - Setiap nelayan percaya akan pantangan membunuh ikan lumba-lumba. Sederetan undang-undang nasional maupun internasional juga melarang adanya pembantaian terhadap sahabat manusia di tengah laut itu.Tapi, rupanya, sederetan pantangan dan undang-undang itu tidak mampu membendung lajunya pembunuhan ikan lumba-lumba itu. Lantas bagaimanakah kisah lumba-lumba itu terus diburu tanpa ada larangan dari pemerintah? Berikut laporan wartawan detikcom Chaidir Anwar Tanjung dari kawasan Pantai Timur Sumatra secara berseri:Bermula dari JengkelKisah duka pembantaian ikan lumba-lumba atau bahasa latinnya disebut Tursiop terjadi di Selat Malaka pantai timur Sumatra. Ikan-ikan itu juga populer disebut lumba-lumba hidung botol, karena moncong hidungnya yang memancang seperti botol.Ikan-ikan itu mulanya terperangkap dalam jaring nelayan kota Bagansiapi-api ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Riau, atau sekitar 200 km dari Pekanbaru.Umumnya makhluk hidup, bila lumba- lumba terperangkap dalam jaring nelayan, dia akan berusaha untuk terlepas dari jeratan itu. Kalau sudah jaring tersangkut lumba-lumba, otomatis jaring terkoyak.Awalnya pak nelayan bersabar melihat kondisi jaringnya yang terkoyak oleh lumba-lumba itu. Dengan seuntai benang yang telah tersedia, nelayan merajutnya kembali, atau mereka akan mengeluarkan jaring cadangan untuk menangkap ikan non lumba-lumba.Tapi terus menerus jaring yang mereka tebarkan di pantai timur Sumatra itu selalu terperangkap lumba-lumba. Kisah itu terus berlanjut dan belakangan memicu tragedi pembantaian mamalia yang selama ini masih dipercaya sebagai sahabat manusia.Karena terlalu sering lumba-lumba terperangkap jaring dan gagal melepaskan diri, nelayan pun mulai jengkel. Jasad ikan itu dibawa pulang untuk dicincang, lalu dimasak dan disantap bersama keluarga nelayan. Belakangan, daging ini pun dijual bebas di kota Bagansiapai-api yang juga mempunyai julukan kota ikan. Kabarnya, daging itu tidak kalah enaknya dengan daging rusa atau sapi.Kabar nikmatnya daging lumba-lumba ini berhembus ke seluruh pelosok di kabupaten itu. Apalagi ada isu, bagi pria atau wanita yang menyantapnya, akan tambah perkasa di atas ranjang.Benarkah? Mungkin itu omong kosong, karena belum ada satu lembaga resmi yang membenarkan isu itu. Tapi apa mau dikata, kabar itu sudah terlanjur dipercayai sebagian penduduk di sana.Apalagi kaum laki-laki yang terlanjur termakan isu itu, lebih tergiur mencicipi daging lumba-lumba. Siapa tahu, memang benar daging lumba-lumba bisa menambah hot gairah bercinta. Walhasil, daging itu menjadi kebutuhan rutin penduduk Bagan Siapi-api yang dalam sejarah pernah tercatat sebagai penghasil ikan terbesar di dunia.Perburuan DimulaiSetelah itu, muncul kebetulan berikutnya. Nelayan kehabisan kesabaran, bukan saja karena jaringnya robek, juga perolehan ikan berkurang. Kambing hitamnya, ya si lumba-lumba itu. Bila sebelumnya nelayan hanya menunggu lumba-lumba salah berenang dan terperangkap di jaring, akhirnya memburu lumba-lumba adalah sebuah kesengajaan yang direncanakan.Faktor lain yang meningkatkan perburuan itu, nelayan dari negeri seberang, Malaysia Thailand, ikut meramaikan pemesanan daging lumba-lumba itu. Pedagang negara tetangga itu berani membeli si lumba-lumba dalam keadaan utuh, masih di tengah laut, dan dibayar kontan.Siapa tak tergiur? Tanpa susah-susah memotong-motong dan membawa tangkapan besar itu ke pantai, tak usah menunggu pembeli, uang langsung masuk kocek. Satu ekor lumba-lumba dengan berat 75 kg, bisa mencapai Rp 2 sampai Rp 4 juta. Menurut para nelayan di sepanjang pantai Riau itu, lumba- lumba sudah menjadi buruan mereka secara berkala sejak 10 tahun lalu. Peraturan, larangan, mitos bahwa lumba-lumba sahabat manusia tak lagi mereka pedulikan. "Tak pernah ada yang melarang," kata Mahmud seorang nelayan.Protes Bak Angin LaluKawasan pantai timur Sumatra di Riau pun berdarah. Sikap sadis nelayan ini diprotes Ketua Kelompok Pelestarian Sumber Daya Alam Riau, Bismark Tampu Bolon. Sudah empat tahun yang silam, dia menyurati pemerintah Provinsi Riau dan Menteri Perikanan. Sayangnya, surat yang meminta perlindungan terhadap satwa yang dilindungi itu, tak digubris."Dari dulu saya sudah protes akan pembantai lumba-lumba di Rokan Hilir segera dihentikan. Tapi dasar pemerintah kita aja yang tak perduli. Pembantian lumba-lumba secara besar-besaran di Riau sebuah malapetaka akan kepunahan," kata Bismark kepada detikcom.Akibat ulah para nelayan itulah, kini jarang muncul pemandangan lumba-lumba melompat-lompat di pantai Bagansiapi-api. Padahal dulunya, setiap ada kapal dari Pekanbaru menuju kota Bagan Siapaiapi, dikawasan laut itu, lumba-lumba akan menari-nari mengikuti lajunya kapal. Ikan itu seakan menghibur penumpangnya, mereka berlompat-lompatan dan menjadi hiburan tersediri dalam keheningan perjalanan di tengah laut.Tapi, cerita itu hanya tinggal kenangan sepuluh tahun yang silam. Pemandangan yang sama, kini tidak dapat dilihat lagi dalam perjalanan laut di pantai timur Sumatra. Hilangnya lumba-lumba di kawasan itu tidak lain faktor perburuan liar tadi."Dalam sepuluh tahun terakhir kita tidak bisa melihat lagi ikan lumba-lumba yang melompat di pantai. Itu semua karena perburuan lumba-lumba oleh nelayan Bagan," keluh Bismark. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads