Saat itu protokoler tidak ribet dan tidak ada pengawal galak yang mengusir-usir rakyat yang ingin mendekat pada pemimpin mereka. Karena itu pula segerombolan anak-anak selalu antusias mengiringi langkah Si Bung keluar masuk kampung. Satu di antara anak-anak tak bersepatu itu adalah Boediono. 50 Tahun kemudian, dia dikenal sebagai wakil Presiden RI, mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Saya tinggal di Blitar, kotanya kecil tapi sering dikunjungi Bung Karno. Sebagai anak kecil senang sekali kalau beliau datang. Beliau selalu jalan-jalan ke kota, diikuti anak kecil termasuk saya. Itu sangat membekas sekali. Presiden dulu hanya dikawal 1 atau 2 ajudan tidak dikawal macam-macam," ujar Boediono saat bertemu siswa-siswi SMA Taruna Nusantara di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (27/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat SMP, Boediono bercita-cita jadi insinyur. Dia kagum pada insinyur yang bisa membangun gedung, jembatan bahkan membuat pesawat terbang.
"Namun cita-cita itu juga kandas. Baru saat SMA saya punya keinginan mempelajari ekonomi. Ingin mendalami bidang itu, bukan hanya kulitnya saja. Ternyata karena ekonomi itu saya bisa ke mana-mana. Mulai jadi pengajar sampai jadi pejabat negara," terang mantan Gubernur BI ini.
Boediono pun mengaku tak bercita-cita menjadi wapres. Semuanya terjadi di luar kehendaknya. Padahal jika menghitung-hitung kekuatan politik dan finansial, dirinya sama sekali tidak punya kekuatan.
"Siapalah saya ini. Tapi semuanya terjadi saja. Mengikuti arus," kata Pak Boed, panggilan akrabnya.
Boediono pun kini meneruskan tongkat estafet dari para pemimpin sebelumnya. Jika diibaratkan seorang manusia, Indonesia menurutnya adalah masa praremaja. Masih mencari-cari bentuk idealnya menuju kemapanan.
"Banyak masalah yang masih harus duduk bersama," jelas Boediono.
(rdf/vit)











































