Yang sering mundur, rata-rata adalah wakil kepala daerah. Alasan yang sering terdengar, tidak cocok dan tidak sejalan dengan atasan, sang kepala daerah. Alasan lainnya, para kepala daerah itu mundur karena akan mengikuti kontes Pemilu Kada.
Hal ini diperkuat data dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Menurut juru bicara Kemendagri Reydonnyzar Moenoek dari 244 Pemilu Kada pada 2010, dan 67 Pemilu Kada 2011, hampir 94 persen di antaranya pecah kongsi. "Kemesraannya cepat berlalu," tutur Reydonnyzar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Rano Karno
Rano Karno mulai merambah ke kancah politik sejak tahun 2007. Saat itu Rano sempat digembar-gemborkan maju ke Pemilu Kada DKI Jakarta untuk mendampingi Fauzi Bowo menjadi Wakil Gubernur. Namun entah mengapa, 'Si Doel' ini akhirnya tak jadi berlaga di Pilkada DKI.
Akhir tahun 2007, Rano Karno maju ke Pemilu Kada Kabupaten Tangerang, menjadi calon Wakil Bupati mendampingi Ismet Iskandar yang bertarung sebagai Bupati pada tahun 2008. Ismet-Rano akhirnya menang dan menjabat Bupati-Wakil Bupati Tangerang periode 2008-2013. Namun sayang, di tengah jalan, pada tahun 2011, Rano mundur.
Mundurnya Rano, bukan karena tak cocok dengan Ismet namun karena Rano saat itu menang bertarung di Pemilu Kada Banten menjadi Wakil Gubernur mendampingi Gubernur terpilih Ratu Atut Chosiyah. Rano menegaskan pengunduran dirinya di depan sidang paripurna DPRD Kabupaten Tangerang karena alasan sudah terpilih menjadi Wakil Gubernur Banten. DPRD akhirnya menyetujui pengunduran diri Rano.
2. Diky Candra
Mengawali karier di dunia hiburan dengan memenangkan pemilihan coverboy dari majalah remaja, Raden Diky Candranegara atau yang akrab dipanggil Diky Candra akhirnya terjun ke dunia politik dengan maju Pemilu Kada Kabupaten Garut melalui jalur independen pada tahun 2008.
Diky maju menjadi calon Wakil Bupati mendampingi calon Bupati saat itu, Aceng Fikri. Melalui dua putaran, Aceng-Diky memenangkan Pemilu Kada dan menjadi Bupati-Wakil Bupati Garut periode 2009-1014. Namun di tengah jalan, Diky mengundurkan diri, pada tahun 2011 ini.
Alasan Diky, sudah tidak sejalan pandangan dan prinsip kepemimpinan dengan Aceng dalam menyejahterakan masyarakat Garut. Diky mengaku merasa tidak mampu menjadi pemimpin, tak sanggup mengimbangi pola kepemimpinan yang ada.
Diky juga jengkel pada kondisi birokrasi di Pemkab Garut karena mendapati banyak pegawai harus menyetor uang bila ingin mendapatkan jabatan. Diky juga kecewa Aceng masuk Golkar, karena awalnya mereka maju sebagai calon independen.
3. Ahmad Dimyati Natakusumah
Dimyati Natakusumah menjadi Bupati Pandeglang pada periode 2005-2010 didampingi Erwan Kurtubi sebagai Wakil Bupati. Namun Dimyati mengundurkan diri menjadi bupati dan mengajukan surat pengunduran diri pada 9 September 2009.
Alasan Dimyati, karena dirinya telah terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Baru beberapa minggu menjadi anggota DPR, Dimyati terlilit kasus penyuapan anggota DPRD Pandeglang untuk memuluskan peminjaman dana Pemkab Pandeglang dari Bank Jabar Pandeglang senilai Rp 200 miliar pada tahun 2006, yang membuatnya masuk bui.
Majelis hakim Pengadilan Negeri Pandeglang pada 3 Juni 2010 memutuskan bebas mantan bupati Pandeglang yang kini masih menjadi anggota DPR RI tersebut. Hakim mengatakan, terdakwa tidak terbukti melakukan suap, untuk mendapatkan pinjaman Rp 200 miliar dari Bank Jabar. Dimyati kini duduk di Komisi III dan Baleg DPR.
4. Bambang DH
Bambang Dwi Hartono, Walikota Surabaya selama 2 periode, dari 2002 sampai 2010. Kemudian, Bambang menjadi Wakil Walikota Surabaya mendampingi Walikota terpilih Tri Rismaharini pada 2010-2015.
Namun pada Februari 2011, Bambang DH menyatakan mengundurkan diri sebagai Wawalikota Surabaya. Dia beralasan, ingin memberikan kesempatan kepada kader muda untuk memimpin Surabaya dan tak ingin dituding sebagai orang yang di belakang memanasnya hubungan PDIP dengan Walikota Tri Rismaharini.
Wakil Sekjen DPP PDI-P Hasto Kristanto mengungkapkan, sikap Bambang DH yang berniat mundur sebagai Wakil Walikota Surabaya karena ada kapitalis yang merasa dirugikan terkait rencana kenaikan pajak reklame. Niatan Bambang ini rupanya tak direstui PDIP. Akhirnya Bambang tidak jadi mengundurkan diri. PDIP malah menawari Bambang maju menjadi Cagub DKI Jakarta.
5. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok ini merupakan pengusaha yang lahir dan tumbuh di Bangka Belitung. Dalam situs miliknya ahok.org, Ahok yang pada tahun 1995 itu menjadi pengusaha mengalami sendiri rumitnya berhadapan dengan politik dan birokrasi birokrasi yang korup.
Pabriknya ditutup karena ia melawan kesewenang-wenangan pejabat. Sempat terpikir olehnya untuk hijrah dari Indonesia ke luar negeri, tetapi keinginan itu ditolak oleh sang ayah yang mengatakan bahwa satu hari rakyat akan memilih Ahok untuk memperjuangkan nasib mereka.
Bermodal keyakinan bahwa orang miskin jangan lawan orang kaya dan orang kaya jangan lawan pejabat (Kong Hu Cu), keinginan untuk membantu rakyat kecil di kampungnya, dan juga kefrustasian yang mendalam terhadap kesemena-menaan pejabat yang ia alami sendiri, Ahok memutuskan untuk masuk ke politik di tahun 2003.
Ahok kemudian maju menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur tahun 2004 dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Setahun kemudian, 2005, Ahok maju dalam Pemilu Kada Kabupaten Belitung Timur didampingi Khairul Effendi. Ahok-Khairul menang dan menjadi Bupati-Wakil Bupati Belitung Timur definitif pertama periode 2005-2010.
Kesuksesan ini terdengar ke seluruh Bangka Belitung dan mulailah muncul suara-suara untuk mendorong Ahok maju sebagai Gubernur Bangka Belitung (Babel) di tahun 2007. Karena maju dalam Pemilu Kada Gubernur Babel, Ahok mengundurkan diri dari jabatan Bupati Belitung Timur.
Kesuksesannya di Belitung Timur tercermin dalam pemilihan Gubernur Babel ketika 63 persen pemilih di Belitung Timur memilih Ahok. Namun sayang, karena banyaknya manipulasi dalam proses pemungutan dan penghitungan suara, ia gagal menjadi Gubernur Babel.
Dalam Pemilu Legislatif 2009, Ahok maju sebagai caleg dari Golkar. Meski awalnya ditempatkan pada nomor urut keempat dalam daftar caleg (padahal di Babel hanya tersedia 3 kursi), ia berhasil mendapatkan suara terbanyak dan memperoleh kursi DPR berkat perubahan sistem pembagian kursi dari nomor urut menjadi suara terbanyak. Ahok menjadi anggota DPR periode 2009-2014 dan kini duduk di Komisi II DPR.
6. Prijanto
Prijanto, seorang purnawirawan TNI berpangkat Mayjen, dengan jabatan terakhir Asisten Strategi (Aster) KSAD yang terpilih sebagai wakil gubernur DKI Jakarta mendampingi Fauzi Bowo pada Pemilu Kada DKI Jakarta tahun 2007. Prijanto akhirnya menjadi Wagub DKI periode 2007-2012.
Prijanto yang pernah terlibat aktif dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1978, akhirnya mengajukan surat pengunduran diri pada Jumat (23/12) lalu. Prijanto belum secara eksplisit mengatakan penyebab dirinya mengundurkan diri. Namun diduga Prijanto tidak cocok dengan Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Foke. Ada pula dugaan Prijanto mundur karena akan maju menjadi cagub DKI.
Mana yang benar? Masih belum jelas. Yang jelas, Prijanto menumpahkan semua pikirannya ke dalam buku berjudul 'Andaikan... Aku atau Anda Gubernur Kepala Daerah'. Dalam buku setebal 308 halaman itu, Prijanto berkisah bagaimana seharusnya seorang gubernur.
Soal isi buku ini, dalam wawancara setelah menyatakan mundur, beberapa kali Prijanto menyebut semuanya dia tuangkan di buku ini. Lalu, benarkah Prijanto dan Fauzi Bowo tidak harmonis?
"Seperti kondisi Provinsi Jakarta yang merupakan titik temu berbagai macam etnis, sehingga sangat diperlukan sifat, sikap, dan cara-cara berpikir seorang gubernur yang tidak sombong, tidak sektarian, bisa bertutur kata yang baik terhadap semua orang atau golongan dan mampu menempatkan diri sebagai milik rakyat," tulis Prijanto berkomentar soal sosok gubernur di halaman 43.
(nwk/ndr)











































