Ketidakcocokan pasangan gubernur dan wakil gubernur ini disebut-sebut sebagai biang pangkal perpisahan itu. Padahal keduanya begitu mesra saat kampanye 2007 lalu. Lalu bagaimana mereka bisa bersatu?
Seperti dikutip detikcom, Selasa (27/12/2011) dari buku Prijanto, 'Andaikan.. Aku atau Anda Gubernur Kepala Daerah' terbitan Gramedia, purnawirawan jenderal bintang dua TNI itu berbagi cerita. Berikut kronologinya seperti tercantum di halaman 95:
-Tanggal 29 Mei 2007, staf Pak Fauzi Bowo menelepon saya, menyampaikan kalau Pak Fauzi ingin bertemu dengan saya di rumahnya pada pukul 17.00 WIB, saya menyanggupi.
-Tanggal 29 Mei 2007, kurang lebih pukul 16.45 WIB, saya datang di rumah Pak Fauzi, Jl Teuku Umar 24, Menteng, Jakpus.
-Tepat pukul 17.00 WIB, masih pada hari yang sama, Pak Fauzi keluar, saling menyapa dan Pak Fauzi bilang, "Pak Pri, sore ini kita menghadap Ibu Megawati". Saya tidak tanya untuk apa, cuma menjawa ya.
-Pukul 17.15 WIB, Pak Fauzi dan saya datang di kediaman Ibu Mega di Jl Teuku Umar. Di sini Ibu Mega memberikan arahan dan harapan kepada kami berdua. Satu yang selalu saya ingat wejangan Ibu Mega kepada saya, bahwa hendaknya saya selalu ingat bahwa posisi saya hanya wakil. Secara substansi apa yang disampaikan beliau sama dengan prinsip di dalam kehidupan militer, apa arti wakil dan apa perannya dan batas-batas kewenangannya.
-Sepulang dari kediaman Ibu Mega, Pak Fauzi mengatakan bahwa nanti malam akan ada pertemuan antara pimpinan partai koalisi di Jl Diponegoro 43, dan saya diminta menunggu telepon Pak Fauzi
-Malam itu, pukul 19.30 WIB, saya menunggu di Taman Suropati. Pukul 21.00, saya dapat telepon dari Pak Fauzi, diminta merapat ke Jl Diponegoro 43, untuk diperkenalkan dengan pimpinan partai koalisi. Semua lancar, tidak sampai 10 menit bubaran.
-Tanggal 30 Mei 2007, saya menelepon Kasad yang pada waktu itu dinas luar Jakarta untuk menanyakan apakah saya diizinkan menjadi Cawagub Pak Fauzi. Kasad (saat itu) -Jenderal TNI Djoko Santoso- mengizinkan. Saat itulah saya mohon izin mengundurkan diri dari dinas TNI. Setelah itu saya menghadap Panglima TNI (saat itu) Mersekal TNI Djoko Suyanto di Cilangkap, mohon izin menjadi Cawagub dan mengundurkan diri dari dinas TNI dan pensiun.
-Tanggal 31 Mei 2007, saya pensiun dari dinas TNI. Pada tanggal 1 Juni 2007 deklarasi pasangan Fauzi-Prijanto di Tugu Proklamasi Menteng.
"Sebagai Cawagub, bukan kehendak saya dan saya sama sekali tidak pernah melamar kepada Pak Fauzi atau partai-partai. Saya orang netral, sehingga partai koalisi bisa menerima," jelas Prijanto di halaman 97.
Dia juga menuliskan, bahwa dirinya tidak pernah mengeluarkan uang satu peser pun untuk menjadi cawagub. Dalam buku setebal 308 halaman itu, Prijanto juga menolak tudingan dia hanya mendompleng dan tidak mengeluarkan keringat untuk memenangkan pemilukada DKI.
"Secara berkelakar saya katakan, bahwa saya juga berkeringat, jika yang dimaksud keringat dalam arti sebenarnya, yaitu ketika menunggu di Taman Suropati tertidur di mobil tanpa AC. Tetapi jika keringat yang dimaksud arti kiasan, itu semua ada dalam pengabdian saya selama 32 tahun di TNI, sehingga pimpinan TNI mengizinkan," tulis Prijanto.
(ndr/nrl)











































