Aksi massa IMM DIY diawali dari kantor Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta di Jl Sultan Agung berjalan kaki menuju titik Nol kilometer atau di Simpang Empat Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Dalam aksi itu para peserta mengenakan jaket IMM warna merah tua serta membawa bendera panji IMM. Para peserta juga membawa poster dan spanduk yang di antaranya bertuliskan "Tuntaskan kasus Bima dan Mesuji, Negara budak korporat polisi pembunuh rakyat, nasionalisasi sektor tambang dan perusahaan asing,".
Koordinator aksi Indro Sucipto dalam orasinya mengatakan munculnya berbagai kasus kekerasan terhadap rakyat semakin menunjukkan rezim pemerintahan SBY-Boediono tidak pernah berpihak kepada rakyat, tapi kepada asing atau pemilik modal.
Menurut dia, kasus bentrokan aparat sehingga 2 orang warga Sape Bima NTB tewas menunjukkan bila aparat semakin represif. Rakyat Bima menolak aktivitas tambang karena petani Bima akan menghilangkan mata pencaharianya. Pertambangan juga dianggap akan merusak keseimbangan ekosistem alam.
Dia menuntut dihentikannya izin melakukan pertambangan di Bima dan usut tuntas kekerasan yang terjadi di Bima dan daerah lainnya seperti Mesuji Lampung dan Papua.
"Aparat harus bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi kepada masyarakat. Pemerintah juga harus mengusut kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di Bima hingga tuntas," tegas Indro.
Selama aksi damai berlangsung, aparat kepolisian tidak menjaga ketat aksi tersebut. Meski aksi di lakukan di depan pos pengamanan Operasi Lilin Progo 2011 yang ada di sisi selatan titik nol kilometer. Karena musim liburan sekolah sekitar lokasi demo juga dipenuhi wisatawan sehingga sempat mengakibatkan arus lalu-lintas tersendat.
(bgs/anw)











































