Bahkan aksi protes yang diwarnai adu mulut antara preman penambang dan warga itu juga menyita salah satu dari dua alat berat ada di pinggir Kali Krasak, Salam Magelang.
Aksi penambangan yang sudah berlangsung kurang lebih sebulan itu berjalan secara kusing-kucingan. Sebab aksi protes yang dilakukan warga sudah untuk kesekian kalinya namun tidak ditanggapi oleh pihak berkepentingan. Baik polisi maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang yang menurut Perda Bupati penambangan dengan alat berat dilarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yono Punokawan, warga sekaligus koordinator aksi menyatakan aksi itu dilakukan warga karena warga sudah jengkel dan kehilangan akal. Pasalnya, selain melibatkan perangkat desa setempat, proses penambangan liar itu juga terkesan dibiarkan oleh polisi dan Pemkab Magelang. Selain itu juga mengancam keberadaan sekitar 400 warga jika banjir lahar dingin menerjang karena cek dam yang berada di sekitar sudah dalam kondisi kritis.
"Sudah berkali-kali warga menanyakan izin dari kabupaten dan rekomendasi dari BBWSO namun mereka tidak bisa menunjukkan. Malah menambang dengan menggunakan truk jenis kontainer dan dilakukan di malam hari. Ngeruk pasirnya siang. Malam dimuat ke truk dengan eskavator itu," jelas Yono, Minggu (25/12/2011).
Saat ini, ratusan masa warga masih berkerumun. Sementara puluhan preman penambang juga masih ada di sekitar Kali Krasak dan hanya diam melihat aksi pengerusakan warga. Polisi setempat juga menurunkan personelnya namun tidak bisa mencegah aksi nekat warga sebab kalah banyak dengan jumlah warganya.
(anw/anw)











































