Menurut seorang pejabat di Polres Ogan Komering Ilir (OKI) yang menemui wartawan pada Kamis (22/12/2011) menyebut sengketa lahan terjadi mulai sekitar 1996 atau 1997 antara warga dengan PT Sumber Wangi Alam (SWA). Mengingat ada masalah serius, mediasi pun digelar kedua belah pihak hingga beberapa kali.
"Sebenarnya mediasi sudah sering dilakukan, seingat saya sudah lebih dari 7 kali dilakukan proses mediasi tersebut dari medio Oktober 2010-Februari 2011," ujar pejabat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah saat itulah ketegangan antara warga dan perusahaan mulai meningkat," tambah sang pejabat.
Dia menuturkan, masalah tanah yang mencuat pada 1996-1997 terjadi saat pihak perusahaan ingin memperluas wilayah perkebunannya. Namun masyarakat merasa mempunyai lahan yang dijadikan perkebunan plasma oleh perusahaan sawit.
"Pada awalnya perusahaan itu melakukan perjanjian dengan warga," terang pejabat itu.
Dia lantas menuturkan insiden Mesuji Sumsel yang terjadi pada 21 April 2011. Saat itu dua warga Desa Sungai Sodong bernama Indra Syafii dan Syaktu Macan menuju kebun sawit di petak 19 yang berjarak 5 km dari wilayah desa itu. Maksud dan tujuan mereka ke petak 19 adalah untuk mencegah para pekerja dari perusahaan sawit untuk memanen.
Para pekerja saat melakukan memanen dijaga beberapa satpam dari pihak perusahaan. Hal ini dilakukan karena mereka menganggap lahan di petak 19 merupakan lahan hak yang sudah dijanjikan perusahaan dan sekarang masih merupakan lahan sengketa.
"Sempat terjadi keributan di wilayah tersebut, antara dua warga Sungai Sodong dan para satpam yang menjaga para pekerja PT SWA yang sedang melakukan panen. Diawali adu mulut, insiden tersebut lalu berlanjut dengan adu fisik dan akhirnya menyebabkan tewasnya satu anggota satpam," tutur pejabat.
Satpam itu bernama Sabar bin Ruswat. Melihat rekannya tewas, beberapa anggota satpam lainnya akhirnya tersulut emosi. Lalu terjadilah peristiwa yang menyebabkan Indra Syafii meninggal dan Syaktu bin Macan luka parah di sekujur tubuh.
"Sekitar pukul 13.00 WIB, Syaktu yang terluka parah, masih bisa melarikan diri (tidak diketahui melarikan diri menggunakan motor atau berlari) untuk pulang ke Desa Sungai Sodong dan melapor kepada warga setempat. Syaktu akhirnya meninggal di perjalanan saat akan dibawa ke Puskesmas," paparnya.
Sekitar pukul 13.30 WIB, warga Sungai Sodong tersulut emosinya dan akhirnya mereka melakukan serangan balasan. Dengan mengerahkan sekitar 300-400 orang, mereka menyerbu perusahaan.
"Maksud kedatangan warga Sungai Sodong tersebut adalah untuk meminta pertanggungjawaban terkait terbunuhnya dua warga Sungai Sodong. Sudah tersulut emosi warga akhirnya melakukan aksi anarkis dengan menewaskan 4 orang yang terdiri dari karyawan dan satpam," terang pejabat itu.
Sedangkan versi sesepuh warga Desa Sungai Sodong, Riyadi kepada detikcom kemarin mengatakan, Indra Syafii dan Syaktu Macan saat itu hendak ke pasar untuk membeli herbisida dengan berboncengan naik sepeda motor. Kemudian pada siang harinya ada yang mengantarkan Indra dan Syaktu ke Desa Sungai Sodong.
Indra diantarkan sudah dalam keadaan tewas mengalami luka tembak di dada kiri, kanan dan tengah serta di kepala. Kondisi leher Indra nyaris putus karena digorok. Sedangkan Syaktu, tubuhnya penuh luka bacok, bahkan masih ada pisau bergerigi yang menancap di tubuhnya. Syaktu yang saat itu masih hidup ditanya warga siapa yang melakukan, Syaktu pun menjawab, "Pam, preman dan Brimob". Syaktu yang dibawa ke Puskesmas tak tertolong nyawanya.
Sementara itu Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Mesuji yang diketuai Denny Indrayana sudah bergerak ke lapangan. Fokus utama tim adalah menyelamatkan korban yang terluka. Namun tim sudah mengantongi dugaan penyebab bentrok di kebun sawit di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan.
(vit/nwk)











































