Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengaku memilih melakukan efisiensi anggaran agar tak banyak anggaran yang dikeluarkan untuk keperluan ke luar negeri.
"Ini pilihan untuk efektif. Kalau pimpinan mau keliling dunia tiap hari kan bisa. Tapi untuk apa kalau tidak ada manfaatnya. Padahal kalau kunjungan muhibah itu pimpinan bisa setahun 4 kali. Tetapi rata-rata hanya dipakai sekali. Saya sekali ke Vietnam, bahkan Pak Taufik Kurniawan belum pernah, ini saya bukan membela pimpinan," tutur Pramono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pramono menuturkan, secara keseluruhan paling hanya 12 persen anggaran yang dipakai. Jadi politikus PDI Perjuangan itu tak sepakat kalau kemudian anggaran besar pimpinan DPR yang disalahkan.
"Penyerapan anggarannya tidak terlalu banyak. Tidak lebih dari 12 persen, tidak lebih dari itu," ujarnya.
Menurut Pramono, anggaran tidak bisa hanya dilihat nominalnya, namun apakah setiap pimpinan DPR menggunakan anggaran itu dengan efektif atau tidak tidak. Pramono mengakui, ia termasuk orang yang tidak mau memanfaatkan anggaran untuk hal-hal yang tidak perlu.
"Misalnya memaksakan diri ke luar negeri dan macam-macam, kalau tidak diperlukan tidak usah. Seluruh pimpinan itu penyerapan rata-rata di bawah 20 persen. Jadi kemudian jangan dilihat ini kesalahan pimpinan," tutur Pramono.
Pimpinan DPR, menurut Pramono, tak tahu menahu mekanisme penganggaran karena tidak ikut dalam pembahasan anggaran di Badan Anggaran.
"Itu kan alokasi yang ada pertimbangannya. Memang yang sering kurang itu justru di komisi-komisi. Seringkali mereka kekurangan. Nah, budget pimpinan yang sudah dialokasikan ini yang katakanlah cukup tinggi penyerapannya tak sampai 12 persen," paparnya.
Lebih lanjut, dia berharap agar LSM lebih cermat dalam mengkritisi. Ini penting agar tidak begitu saja menyalahkan pimpinan DPR.
"Beginilah yang mengkritik itu harus paham terlebih dahulu. Kalau memang benar katakan Rp 7 miliar yang digunakan pimpinan itu wajib dikritik," tandasnya.
(van/lrn)











































