"Kalau 2011 saya lihat sebenarnya tahun tidak produktif. Karena hiruk pikuk terlalu berlebihan," tutur Pramono kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/12/2011).
Menurut Pramono, banyak masalah tidak terselesaikan. Di sektor ekonomi dan hukum banyak gambaran yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi yang ada hanya hiruk pikuk. Luar biasa hiruk pikuknya tetapi inti dari persoalan itu sendiri tumpang tindih, tertimbun begitu saja," politikus PDI Perjuangan ini.
Contoh nyata, menurut Pramono, adalah penuntasan kasus Nazaruddin yang belum beres namu sudah ditindih dengan kasus Nunun yang tak kalah besar.
"Jadi satu persoalan belum selesai tertimbun persoalan lain. Nazar tertimbun Nunun, Nunun masih setengah-setengah ada Mesuji. Refleksi bagi kita harus ada yang diperbaiki dalam sistem ini," ujarnya.
Menurut Pramono, bangsa Indonesia kini mengalami apa yang disebut hyper demokrasi. "Ini soal dukungan publik. Tidak lagi secara resmi berkaitan dengan pengakan hukum. Contoh persoalan GKI Yasmin, kenapa penguasa tidak berani mengambil keputusan secara tegas, karena ini menyangkut minoritas," tegasnya.
(van/lrn)











































