5 Ton Ikan Kerambah di Kabupaten Kampar Mati

5 Ton Ikan Kerambah di Kabupaten Kampar Mati

- detikNews
Rabu, 21 Jul 2004 20:01 WIB
Pekanbaru - PLN Sektor Pekanbaru menutup seluruh pintu air bendungan PLTA Kota Panjang di Kabupaten Kampar. Akibatnya, lebih dari 5 ton ikan siap panen dalam kerambah di empat desa di Kecamatan Bangkinang Barat di kabupaten yang sama dilaporkan mati.Matinya ikan-ikan dalam kerambah yang kekurangan air itu, terjadi sejak 17 Juli 2004 sekitar pukul 22.30 WIB. Karenanya kelompok Petani Ikan Kerambah Desa Maringan melakukan protes keras kepada pihak PLN. Protes keras itu disampaikan dalam pertemuan dengan pihak Menajer PT PLN Sektor Pekanbaru yang berlangsung Gedung Olahraga PLTA di Desa Meringin, Rabu (21/07/2004) di Kabupaten Kampar sekitar 70 km arah barat dari Pekanbaru.Dalam pertemuan itu, Ketua Kelompok Petani Ikan Keramba Edi Warman mengatakan, bahwa ikan-ikan dalam kerambah mereka mati karena ketinggian air hanya tersisa 25 cm saja.Air sungai itu menyusut pada malah hari selama 4 jam. "Akibatnya ikan-ikan dalam kerambah menjadi mati semuanya," kata Edi kepada detikcom.Menurut Edi, di desanya saja ada sekitar 2.300 kg ikan kerambah yang mati. Padahal ikan-ikan yang siap panen itu dipelihara oleh 14 petani kerambah dengan total kerugian berkisar 101 juta."Itu baru desa kami saja, belum desa lainnya. Kita perkirakan jumlah ikan yang mati bisa empat kali lipat lagi banyaknya. Paling tidak minimal 5 ton ikan emas kerambah petani mati dalam waktu empat jam," paparnya.Dia mejelaskan, penutupan seluruh pintu air PLTA Koto Panjang, merupakan penyebab utama dari kematian ikan-ikan mereka. Karena itu, sekitar 150 petani kerambah ikan akan melakukan gugatan kepada pihak PLN untuk mengganti rugi yang mereka alami."Kita akan menuntut pihak PLN, sebab saat ini satu kilogram ikan mas harganya mencapai Rp 9500," katanya.Ditempat yang sama, Manajer PT PLN Sektor Pekanbaru Toni Hutabarat mengatakan, pada malam kejadian penutupan seluruh pintu air PLTA Koto Panjang tersebut, saat itu PLN mengalami ganguan pada seluruh turbin. Hal itu bisa terjadi, karena ketinggian air di waduk tersebut sudah berada pada ketinggian yang sangat kritis sehingga tidak mampu menggerakkan turbin."Kondisi itu yang memaksa kami harus menghentikan operasional ketiga turbin di PLTA Kota Panjang yang mengakibatkan pasokan energi listrik terhenti total," katanya.Toni juga menyebutkan, bahwa insiden itu merupakan peristiwa alam yang berada di luar kemampuan manusia. Kendati demikian, pihaknya juga menawarkan dana bantuan kepada petani ikan yang mengalami kerugian karena ikan-ikannya yang mati."Karena ini termasuk musibah, kita tawarkan kepada petani dalam bentuk ganti rugi, 40 ribu bibit ikan. Dan sekitar 50 sak makanan ikan berupa pelet, katanya. (dni/)


Berita Terkait