Pada hari pertama, Senin lalu, jumlah warga yang jahit mulutnya hanya 8 orang. Di hari kedua bertambah menjadi 18 orang. Pada hari ketiga, jumlahnya kembali bertambah menjadi 28 orang.
Para warga ini nekad melakukan aksi jahit mulut karena menuntut perusahaan kertas yang menguasai Kepulauan Meranti dicabut izinnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, para warga yang melakukan aksi tiduran di tenda sederhana berwarna biru yang dipasang ala kadarnya di depan gerbang DPR. Puluhan teman mereka juga tidur di tenda sederhana yang dibangun disebelahnya.
Kondisi mereka pun tampak mulai lemah. Sementara hingga saat ini belum ada ambulance yang disiagakan untuk menjaga kesehatan mereka.
"Sekarang sudah ada 10 orang tambahan yang dijahit mulutnya. Totalnya jadi 28 orang, beberapa kondisinya mulai lemah," ujar koordinator aksi, Binbin Firman Tresnadi, kepada wartawan di lokasi di halaman Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (21/12/2011).
Di bagian atas tenda dipasang spanduk besar bergambar Presiden SBY dan Menteri Kehutanan Zulkifly Hasan bertulis "Aksi Jahit Mulut Mendesak Pemerintah Realisasikan Pasal 33 UUD 1945".
Di atas kepala mereka dipasang spanduk bertulis "Cabut Izin PT RAPP di Pulau Padang Kepulauan Meranti". Perusahaan pulp ini menguasai 41.000 ha lahan di Kepulauan Meranti.
Siang tadi sebenarnya mereka sudah ditemui Ketua DPR Marzuki Alie. Namun mereka menolak permintaan Marzuki untuk mengakhiri aksi nekat ini.
(van/gun)










































