"Menurut data BLU TansJ Januari-Oktober 2011, terdapat 102 kecelakaan yang melibatkan bus TransJ. Angka ini turun jauh dibandingkan 2010 yang mencapai 303 kecelakaan," kata anggota pengurus harian YLKI Tulus Abadi, Rabu (21/12/2011).
Hal ini diungkapkan Tulus dalam jumpa pers 'Potret Pelayanan TransJ 2011' di Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan.
Tulus mengatakan, sepanjang 2011 terdapat 17 orang tewas akibat kecelakaan bus TransJ sedangkan tahun lalu hanya 13 orang yang tewas. "Berarti per bulan ada 1,42 orang meninggal akibat kecelakaan. Ini angka yang mengerikan. Kecelakaan terbanyak terjadi di Koridor I dengan operatornya Jakarta Express Trans," katanya.
Tulus menyatakan, tingginya angka kematian akibat kecelakaan bus TransJ ini disebabkan sopir TransJ yang ngebut dan melanggar lalin. Kondisi ini diperparah dengan kondisi jembatan penyeberangan orang (JPO) yang bolong-bolong, banyak pedagang kaki lima dan bentuknya meliuk-liuk.
"Tidak tegasnya polisi, petugas Dishub atau satgas dalam menjaga sterilitas koridor TransJ berdampak buruk pada perilaku penyeberang jalan," katanya.
Tulus meminta Pemprov DKI lebih berpihak pada kendaraan umum seperti bus TransJ daripada angkutan pribadi. Selain itu kualitas SDM dan armada bus TransJ juga harus ditingkatkan.
"Pemprov harus lebih berpihak ke angkutan umum karena selam ini lebih ke mobil pribadi dibanding transprortasi umum contohnya buat jalan layang non tol," katanya.
(nal/nrl)











































