"Wacana umur capres ini selalu saja muncul, wacana dari zaman kolonial. Sekarang ini nggak cocok lagi. Karena yang lebih penting adalah bagaimana sosok yang maju itu membuktikan dirinya punya kekuatan yang nyata yang bisa membawa perubahan," kata pengamat politik dari Universitas Indonesia, Zukfikar Ghazali, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (21/12/2011).
Menurut dia, ketimbang berkutat dengan umur capres, masyarakat lebih tertarik dengan program yang ditawarkan para capres. "Mungkin soal komitmen menyelesaikan masalah HAM di masa lalu atau soal pemberantasan korupsi yang tegas, akan lebih menarik," sambung Zulfikar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu Amien Rais juga maunya capres lalu gagal. Soal ini memang harus benar-benar diukur kekuatannya seperti apa. Nah apalagi sekarang ini ada kasus Wa Ode, meski belum terbukti benar atau salah, tapi tetap saja membuat partai ini jadi sorotan," papar Zulfikar.
Sebelumnya, mantan Ketua Umum PAN Amien Rais, mengusulkan capres dan cawapres tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda. Usia yang pas menurutnya antara 45-55 tahun. Dia menyebut sejumlah nama dengan usia yang tak terlalu tua dan terlalu muda yakni Hatta Rajasa, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani dan Pramono Anung.
Sementara itu PAN makin mantap mencapreskan Hatta. PAN akan merangkul Partai Demokrat dan mitra koalisi lainnya untuk mengantarkan Hatta sukses menuju kursi nomor satu di negeri ini.
(vit/nrl)











































