Misalnya saja seorang pasien perempuan berusia 53 tahun yang enggan menyebutkan namanya. Dirinya datang paling awal untuk berobat ke Poli Jantung sekitar pukul 07.00 WIB.
"Sudah dapat nomor satu pas diumumkan dokternya tidak praktik saya harus daftar lagi dan dapat nomor 39," ujarnya saat ditemui di RS Budi Asih, Jakarta Timur, Selasa (20/12/2011).
"Itu sama saja nyekek pasien," keluhnya sambil mengelus dada.
Senada dengan Mahdar (32) yang mengantar istrinya Aulia Hasanah (32) berobat ke Poli Paru. Dia terkejut ketika mendapati dokter yang berpraktik tiba-tibn tidak bertugas, padahal dirinya sudah mendaftar di loket pendaftaran.
"Kita keberatan dan kecewa saja, karena kan obat untuk sakit paru-paru tidak bisa terlambat sehari. Kalau sudah begini bagaimana lagi," ketusnya.
Menurut Mahdar, saat dirinya datang sudah banyak pasien Poli Paru yang mengantri. Rata-rata dari mereka memilih pulang karena mengetahui dokter yang biasa bertugas tidak ada.
"Pasien lain pulang karena lama antrenya," kata Mahdar.
Di Poli Anak yang lokasinya bersebelahan dengan Poli Dewasa juga sempat terjadi penumpukan pasien yang rata-rata balita.
Seperti dituturkan seorang bapak yang tengah mengantarkan anak-istrinya untuk rontgen. "Sempat ada penumpukan tapi setelah ada dokter pengganti sudah bisa diperiksa pasiennya," kata pria berpenampilan cepak tersebut.
Pantauan detikcom sekitar pukul 11.30 WIB, lantai poliklinik RSUD Budi Asih ruang poli sudah nampak sepi. Kurang dari 10 pasien terlihat duduk di poli tersebut.
RSUD Budi Asih memiliki 13 unit poliklinik yang melayani beragam keluhan penyakit. Dokter yang berdinas di seluruh poliklinik tersebut sekitar 20an dokter spesialis.
Sementara itu sebelumnya, para dokter spesialis yang melakukan aksi mogok kerja ini membantah kalau melakukan penelantaran.
"Bukan menelantarkan, pasien rawat jalan itu tidak sama dengan IGD (Instalasi Gawat Darurat). Kalau tidak ada dokter bisa mencari tempat lain," kata dokter lainnya yang tergabung dalam aksi tersebut, dr Daniel Effendy Sp. A, yang turut memberikan keterangan pers menjawab pertanyaan wartawan mengenai nasib pasien yang terlantar.
(ahy/ndr)











































