Ketika Sopir Angkot Terkena Getah Pelaku Perkosaan

Ketika Sopir Angkot Terkena Getah Pelaku Perkosaan

- detikNews
Senin, 19 Des 2011 09:24 WIB
Jakarta - Aksi kejahatan di dalam angkutan perkotaan kembali terjadi. Para korban mengalami tindak kekerasan sekaligus diperkosa oleh sang sopir, bahkan turut dikuras harta bendanya. Akibat dari tindak kejahatan tersebut, para sopir angkutan lain terkena imbasnya.

Handoyo terdengar terus menggerutu kepada penumpang perempuan soal muatan angkot M-19 (Kranji-Cililitan) yang dia rasakan kian menurun sejak peristiwa pemerkosaan terhadap penumpang terus terjadi.

"Gara-gara mereka penumpang kayak gini," ujar Handoyo menggerutu di balik kemudi angkotnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keluhan pria dua anak asal Purwokerto ini bukan tidak berdasar. Sepinya penumpang sudah dia rasakan sejak pertama peristiwa perkosaan di dalam angkot terjadi di Jakarta Selatan.

Saat itu dia mulai merasakan penumpang mulai merosot. Penumpang kian sepi sejak peristiwa serupa terjadi terhadap seorang pengasuh saat akan pulang ke rumah majikannya di kawasan Duren Sawit.

"Sekarang kerasa banget sepinya," ujar pria berusia 37 tahun ini.

Dia mencontohkan, bila kondisi normal angkot yang dikemudikannya tersebut dapat menghasilkan Rp 80 ribu dalam satu kali balikan, Kranji-Cililitan-Kranji. Namun, saat peristiwa perkosaan yang ketiga kalinya terjadi dirinya hanya dapat membawa Rp 42 ribu dalam satu kali balikan.

"Itu cuma setengahnya dipotong makan-minum dan dipotong petugas timer," katanya.

Meski demikian, pria berbadan gempal ini masih berucap syukur karena uang setoran setiap harinya, Rp 160 ribu, masih dapat dicapainya kepada bandar angkot.

"Kalau istri enggak terlalu masalah bawa uang sedikit ke rumah, yang penting ada uang makan dulu," tutur Handoyo yang pernah mengendalikan Metromini.

Bukan hanya berdampak pada penurunan penumpang, akibat peristiwa keji dan tidak senonoh di dalam angkot yang terus terjadi, sang istri Rosidah (33), juga merasakan tidak nyaman. Bahkan istrinya tersebut mengusulkan Handoyo untuk. Mencari pekerjaan lain.

"Istri suka bilang kalau ada kerjaan lain mending kerja lain saja," tuturnya menirukan ucapan sang istri yang tinggal di Tasikmalaya.

Dia menyesalkan sikap pemilik angkot dan sopir resmi yang dengan mudahnya memberikan kemudi ke sopir tembak. Dia juga menyesalkan peran aparat yang tidak tegas terhadap para sopir tembak yang setiap kali razia kedapatan tidak mampu menunjukan identitas resmi sebagai pengemudi angkot.

"Kalau sudah begini semuanya yang susah. Mending yang merkosa itu di hukum berat saja biar tahu rasa, karena bukan saya saja yang rugi. Teman sesama sopir juga ngeluhnya sama kayak saya, dari mulai penumpang yang sepi dan istri yang khawatir," gumamnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Institut Studi Transportasi, Darmaningtyas, mengatakan razia penertiban sopir angkot 'liar' yang dilakukan pihaknya sudah cukup baik meski baru sebatas sosialisasi.

"Tapi harus konsisten dilakukan, khawatirnya pagi angkot dikendarai sopir batangan, siang bisa dioper ke sopir tembak. Ini yang harus diantisipasi pihak terkait," katanya.

Dia berharap ke depan, sistem kepemilikan angkot adalah berbadan hukum. Menurutnya, dari 14 ribu angkot yang berada di bawah 9 koperasi angkutan di Jakarta baru sebagian kecil saja yang berbadan hukum.

"Tidak separuhnya dari 14 ribu angkot berbadan hukum," usul Darmaningtyas.

Kelebihan angkot berbadan hukum adalah, bila terjadi tindak kriminal atau merugikan penumpang, maka penegakan hukum akan langsung menyasar badan hukum tersebut.

"Selama ini sulit teridentifikasi bila ada tindak kejahatan," ujarnya.

(ahy/ndr)


Berita Terkait