Siswono Beri Sinyal akan Merapat ke Mega
Rabu, 21 Jul 2004 14:15 WIB
Jakarta - Siswono Yudo Husodo, cawapres pasangan Amien Rais yang kemungkinan besar gagal maju ke putaran kedua pemilu presiden, memberi sinyal untuk mendukung pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dibanding pasangan SBY-Kalla."Komunikasinya sudah intens," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta Design Centre, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (21/7/2004), ketika menjelaskan tentang komunikasi politiknya dengan kubu Mega.Siswono, menjawab pertanyaan wartawan, juga menegaskan sikapnya terdahulu bahwa mantan militer belum pas untuk memimpin Indonesia pada periode 2004-2009. "Militer yang seperti itu saya memang tidak cocok. Dan saya masih tetap seperti itu," katanya sambil tertawa. Diakui Siswono, citra militer memang lebih melekat pada Wiranto. "Tapi patut diingat SBY juga anggota tim negosiasi di Jenewa untuk kasus Aceh yang saat itu membiarkan GAM berkeliaran. Bahkan sempat mencuat tawaran referendum. Kalau itu tetap diteruskan maka Aceh akan hancur."Siswono memiliki catatan positif sekaligus negatif tentang Mega. Menurutnya, saat Mega jadi presiden makro ekonomi membaik. "Pertumbuhan ekonomi positif. Tapi mikroekonomi buruk. Itu bisa dilihat dari banyaknya penyelundupan." Sedangkan untuk SBY, catatan Siswono tidak ada yang positif. Menurutnya, saat SBY menjadi Menko Polkam tidak ada kemajuan soal Aceh, Poso, dan Ambon. "Dia mengundurkan diri saat pemerintah sedang punya kerja besar, baik itu di zaman Presiden Gus Dur atau Presiden Megawati." Lalu disambungnya, "Dia juga capres yang dipanggil Colin Powell dan Carter (mantan Presiden AS Jimmy Carter). Dia juga mendapatkan keuntungan dari pembentukan opini publik yang dibiayai oleh NDI yang berasal dari AS."Jadi, Mega atau SBY? Siswono masih menimbangnya. "Kalau Mega tetap pada style lama, kasihan bangsa. Sedangkan kalau SBY tetap masih berada di bawah bayang-bayang negara lain, juga kasihan negara. Tapi yang jelas saya tidak akan golput," katanya.Pada akhirnya nanti, tegas Siswono, ia akan memilih pasangan yang bisa meyakinkannya untuk menegakkan NKRI, derajat dan martabat bangsa, tidak dikendalikan oleh negara lain, mempercepat peningkatkan kesejahteraan, bisa mengurangi utang luar negeri.
(gtp/)











































