Perusahaan Bersengketa Biayai Anggota Pam Swakarsa

- detikNews
Jumat, 16 Des 2011 23:10 WIB
Jakarta - Kekerasan yang terjadi di wilayah Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan, melibatkan Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa). Rupanya anggota pasukan tersebut dibiayai oleh perusahaan yang tengah bersengketa dengan warga setempat.

"Saya dikasih rokok, makan dan uang sama PT itu. Saya jadi intel di sana (Pam Swakarsa) karena diajak teman. Teman bilang untuk menjaga dan melestarikan hutan daripada lepas ke tangan orang lain," kata Trubus yang pernah menjadi intel Pam Swakarsa dalam jumpa pers di kantor KontraS, Jalan Borobudur No 14, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (16/12/2011).

Sebagai intel, Trubus bertugas memantau dan melihat situasi keadaan yang akan dituju. Menurutnya tidak ada perintah lain. Dalam menjalankan tugas, Trubus harus melapor ke ketua Pemuda Peduli Lingkungan Hidup (PPLH).

Terkait kebengisan di Mesuji yang terekam dalam video yang dibawa warga ke hadapan DPR, Trubus menegaskan tidak ada rekayasa. "Saya bertanggung jawab akan menunjukkan lokasinya. Mulai dari Sodong, Keagungan Dalam, Sri Tanjung, maupun Pelita Jaya," sambungnya.

Dia merasa heran karena pemerintah yang punya banyak mata dan telinga tidak segera menindaklanjuti peristiwa itu. Padahal peristiwa itu bukan terjadi di dalam 'gentong' atau 'sumur'.

"Ini yang saya bingung, karena kejadian itu bukan dalam gentong. Di sana juga ada wartawan, ada aparat pemerintahan, tapi kenapa harus meminta dan menunggu keterangan Trubus? Itu yang saya pertanyakan. Nanti saya cerita panjang lebar 'masuk angin' juga. Ini yang saya khawatirkan," tuturnya.

Untuk menunjukkan bahwa video kekerasan itu bukan rekayasa, Trubus mengaku sanggup menunjukkan lokasinya. Menurut dia, lokasi tempat berlangsungnya kekerasan itu tidak di satu tempat.

"Ada 6 sampai 7 desa. Kalau pun itu rekayasa, apakah mungkin daun pisang itu di-shoting jadi manusia? Apakah mungkin bambu itu di-shoting jadi senjata? Itu secara logika yang nyata," papar Trubus.

Selain itu, keluarga korban masih ada. "Perjalan ini panjang, bukan sehari dua hari, tidak sebulan dua bulan, tidak juga sekali dua kali. Berkali-kali," ucapnya berapi-api.

Sebelumnya Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim menjelaskan 3 kasus di 2 Provinsi Sumsel dan Lampung yang sama-sama bernama Mesuji. 3 Kasus itu yaitu:

1. Kasus antara PT Sumber Wangi Alam (SWA) dengan warga di Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Peristiwa terjadi 21 April 2011. Ada pembunuhan, yakni 2 warga disembelih. Pembunuhan terhadap warga ini membuat warga marah karena menduga 2 warga tewas korban dari PT SWA. Akhirnya, warga menyerang PT SWA yang menyebabkan 5 orang tewas yaitu 2 orang Pam Swakarsa dan 3 orang karyawan perusahaan.

2. Kasus antara PT Silva Inhutani dengan warga di register 45 di Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, terjadi sejak tahun 2009. PT Silva mendapatkan penambahan lahan Hak Guna Usaha (HGU). Nah, penambahan HGU itu melebar hingga ke wilayah pemukiman warga sekitar. HGU ini menjadi sumber konflik karena warga yang sudah tinggal bertahun-tahun di wilayah pemukiman diusir. Rumah-rumah warga dirobohkan.

Komnas HAM masih menyelidiki adanya korban dari kasus kedua ini. Sehingga, Komnas HAM belum menyatakan ada korban tewas dari kasus ini.

3. Kasus antara PT Barat Selatan Makmur Investindo (BSMI) dengan warga di register 45, Kabupaten Mesuji di Provinsi Lampung, pada 10 November 2011. PT BSMI ini memang letaknya berdekatan dengan PT Silva Inhutani. Ada penembakan terhadap warga yang dilakukan Brimob dan Marinir, 1 warga tewas dan 6 warga menderita luka tembak yang sampai sekarang masih dirawat di rumah sakit.

Atas kasus ini pemerintah sudah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta. Wakil Menteri Kemenkum HAM Denny Indrayana bertindak sebagai ketua tim. Sedangkan wakilnya adalah Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim.

(vit/fjr)