"Saya menyesalkan didalam perlakuan sampai seperti itu, petugas dilempari batu. Ini sekolahnya di mana, pendidikan moralnya di mana, kalau dia beragama ngajinya di mana," kata Untung kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (16/12/2011).
Sementara saat ditanya apa yang memicu peserta demo hingga melakukan pelemparan, Untung meminta semuanya mengevaluasi diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untung mengatakan, kebebasan mengungkapkan suatu pendapat di muka umum adalah hak setiap warga negara. Tapi, penyampaian aspirasi itu sebaiknya dilakukan dengan cara-cara yang tidak melawan hukum.
"Apakah boleh orang lempar semunya. Aspirasi boleh tapi dengan tata cara hukum. Apakah sudah seperti ini demokrasi kita?," ujarnya.
Terkait tindakan anarkis yang dilakukan mahasiswa, Untung mengatakan, pihak rektorat UBK telah menyampaikan permintaan maafnya. Namun, ia meminta agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Dari Purek (Pembantu Rektor) minta maaf, ya kita maafkan. Tapi tidak kita biarkan seperti itu, apa itu harus diteruskan, menyampaikan di muka umum seperti itu, bakar-bakar ban. Kita punya undang-undang, konstitusi, etika moral, ikuti itu," paparnya.
Lebih jauh Untung menyampaikan, kondisi Yoyol sudah membaik. Namun, Yoyol masih mendapat perawatan di rumah sakit.
"Sekarang sudah mulai membaik, tapi masih di opname," katanya.
Sementara penyelidikan terhadap pelaku pelemparan batu, masih terus dilanjutkan. Namun, dari 10 mahasiswa UBK yang ditangkap Rabu lalu, tidak ada yang terindikasi melakukan pelemparan batu.
"Penyelidikan tetap, tapi tidak ada yang ditahan. Identitas kita data, kita foto, orangtuanya kita suruh datang. Ini lah potret generasi muda sekarang," tutupnya.
(mei/did)











































