"Saya telepon ke Komnas HAM, Komnas HAM mengatakan memang ada kejadian, tapi tidak sampai ada berita digorok dan sebagainya. Sekarang masalahnya, saya jujur tidak begitu yakin bahwa itu kejadian itu benar di Mesuji-nya," jelas TB Hasanudin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/12/2011).
Pensiunan jenderal bintang dua TNI AD ini bukan tanpa sebab berbicara soal Mesuji. Dia menuturkan awal mula kedatangan rombongan Mesuji ke DPR dan membuka soal pembantaian 30 petani di Mesuji, Lampung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, dari pembicaraan pada 22 September itulah berlanjut. Sampai pada permintaan Hasanudin agar Saurip membawa dokumen dan saksi-saksi.
"Itu dua minggu lalu, pada saat itu mereka mengatakan itu kejadiaannya tiga atau empat bulan lalu, dari bulan September. 2 Minggu lalu, saya ditelepon orang yang katanya orang Lampung, saya katakan tidak mau jadi fitnah, kalau bukti cukup ayo kita proses," jelasnya.
Hingga akhirnya pada Senin kemarin, Hasanudin ditelepon bahwa saksi-saksi akan datang ke DPR. Namun karena Hasanudin tengah menggelar Rakernas di Bandung, dia menyarankan Saurip agar ke Komisi III.
"Saya sudah kroscek sana sini, bahwa di sana ada bentrokan, iya. Bahwa ada akibat bentrok meninggal 7 orang, iya. Tapi karena ini sudah berkembang, saya pribadi menyarankan bikin saja tim investigasi, apakah itu DPR atau apa yang penting independen, melihat ke sana keadaan sebenarnya," jelasnya.
Namun lebih dari itu, Hasanudin mendukung, bila ada kesalahan dalam penanganan kasus Mesuji harus dibongkar dan kalau ada pelanggaran ditindak, tentunya dengan bukti yang kuat.
"Ini menyangkut nama baik saya. Buat saya kalau mengkritisi pemerintah saya harus punya solusi. Saya pernah bilang ke Saurip apa saya harus kesana (Mesuji) dulu. Mereka bilang enggak usah ada saksi yang kesini. Saurip pernah bilang akan ada orang yang menemui saya, tapi sampai saat ini tidak ada orang yang menemui saya," jelasnya.
(ndr/vit)










































