Aksi tersebut dilakukan Bagyo, Kamis (15/12/2011). Aksi digelar dari Bundaran Gladag di ujung Jalan Slamet Riyadi, Solo, hingga kantor POM AD, tempat dia bertugas selama ini di Jalan Arifin, Solo. Jarak yang ditempuh lebih dari 500 meter.
Aksi didahuluinya dengan menghormat patung Brigjen Slamet Riyadi yang berada di Bundaran Gladag, sebagai simbol penghormatannya salah satu pimpinan TNI pada masanya. Selanjutnya dengan mengenakan seragam PDL tempur, Bagyo melakukan aksi koprolnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti kurang diantisipasi, pemegang rekor push up 24 jam tersebut, mengalami kesulitan di tengah jalan. Jalanan aspal yang keras serta jarak tempuh yang sedemikian jauh sangat menguras tenaganya. Beberapa kali dia harus berhenti untuk istirahat.
Sesampai di depan Gedung Kantor Pos Besar, Partika Subagyo sudah terlihat sempoyongan dan harus dipandu untuk berdiri ketika hendak istirahat. Mukanya merah padam. Sesampai di depan Gedung BI, atau sekitar separuh jalan, dia bukan lagi koprol tetapi sudah berguling-guling untuk meneruskan aksi.
Sesampai depan Balaikota dia melanjutkannya dengan merangkak. Selanjutnya dari depan Gereja Santo Antonius hingga depan kantor POM AD dia berjalan kaki sempoyang dengan dipapah. Hanya beberapa meter di depan pintu gerbang POM AD dia kembali koprol untuk menutup aksi. Aksi ditutup dengan minum air putih dicampur bubuk hitam isi batu batrei.
"Ini lebih berat dari push up 24 jam. Tapi saya senang, ini wujud kebanggaan saya kepada korp TNI AD. Bubuk baterei yang saya minum itu simbol selama ini kami telah merasakan segala kepahitan dan kepedihan, tapi tetap tegar" ujar Subagyo sembari memperlihatkan lecet-lecet di pergelangan tangan dan pundak akibat gesekan dengan aspal selama melakukan koprol.
(mbr/gah)
