Simulasi tersebut menggambarkan Jakarta ditetapkan berstatus siaga 1 banjir akibat dari cuaca ekstrim dan hujan yang mengguyur wilayah Jabodetabek lebih dari 3 jam. Intensitas curah hujan cukup tinggi, 75 milimeter per jam dan berakibat pula pada peningkatan ketinggian muka air.
Warga bantaran Sungai Ciliwung di RT 4 dan 10 RW 2, Kelurahan Cawang, tampak panik dan menjerit saat menyaksikan 1 orang warga hanyut terbawa banjir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kesiapan pos pengungsian korban, tangki air bersih, serta dapur umum disiagakan tidak jauh dari lokasi yang diprediksi menjadi titik banjir.
"Kelurahan Cawang salah satu titik rawan banjir di Jakarta, masih ada 62 titik rawan banjir yang perlu diperhatikan," kata pria yang akrab disapa Foke ini saat membuka Gladi Lapangan di bantaran Kali Ciliwung, Jalan Kalibata, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (15/12/2011).
Foke hanya melihat dari kejauhan proses simulasi banjir dan tidak turun nyemplung ke bantaran kali. Ia lalu berkeliling posko evakuasi, dapur darurat, mengecek pos pengungsian dan peralatan bencana serta tangki air PAM.
"Setiap banjir kan warga selalu bergantung pada tangki air. Saya nggak ingin dengar ada keterlambatan tangki air lambat datang ke pengungsian warga," pinta Foke kepada 3 orang petugas PAM Jaya
Foke berharap gladi lapangan dapat dilakukan di wilayah kota lain yang rawan banjir, seperti di Jakarta Selatan.
"Air tidak mengenal batas wilayah. Bagi tempat yang langganan genangan atau banjir diharapkan mengadakan gladi lapangan secepatnya," ujar Foke disambut tawa peserta yang hadir.
Kabid Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas PU DKI Jakarta, Tarjuki, punya data berbeda. Tarjuki mengatakan ada 78 titik banjir dan yang paling banyak tersebar di Jakarta Barat.
Sedangkan Jakarta Timur, menurut dia, minim rawan banjir lantaran sudah ada Banjir Kanal Timur (BKT). "Di Jakarta Barat ada beberapa sungai yang padat penduduk di bantaran kalinya," kata Tarjuki.
(ahy/aan)











































