Padahal, banyak negara-negara lain mau bekerja selama puluhan tahun. Bahkan ada juga menjadi warga negara tempat mereka bekerja, tetapi masih memiliki semangat kebangsaan negara masing-masing.
Hal inilah yang menjadi komplain para pengguna TKI kita di luar negeri, terutama TKI-TKI yang memiliki keahlian tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumhur melakukan courtessy call dengan Dubes RI di Afrika Selatan, Sjahril Sabaruddin, bersama dengan jajaran pimpinan di BNP2TKI.
Negara Kanada, menurut Jumhur merupakan salah satu negara yang komplain terhadap para TKI Yang biasanya cuma mau menyelesaikan kontrak jangka pendek. "Terutama Kanada, TKI di sana kebanyakan cuma mau kontraktual, untuk dalam jangka waktu yang panjang tidak mau," ujarnya.
Jumhur mencontohkan, para tenaga kerja China dan India, rela menjadi TKI di negara asing, sampai puluhan tahun. Meski banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi warga negara tempat mereka bekerja, namun semangat kebangsaan mereka tetap tidak pudar.
"Ada yang namanya kewarganegaraan, dan ada juga kebangsaan. China, meski kewarganegaraan lain, tapi mereka masih punya jiwa kebangsaan China," tuturnya.
Padahal, menurut Jumhur, dengan tersebar dan tinggal lama di luar negeri, para TKI bisa menjadi public relations (PR) yang baik bagi bangsa Indonesia. Mereka pun bisa lebih sejahtera dengan penghasilan standar internasional yang mereka dapatkan.
Selain melakukan courtessy call dengan Dubes RI di Afrika Selatan, rencananya hari ini Jumhur Hidayat dan rombongan akan bertemu dengan Menteri Perburuhan Afrika Selatan, Nelisewe Mildred Oliphan. Berbagai peluang kerjasama ketenagakerjaan akan dijajaki dalam pertemuan ini. Rencananya, hari ini Jumhur juga akan melakukan pertemuan dengan para agensi TKI di Afsel.
(anw/gun)











































