Dubes RI: Indonesia Masih Melupakan Afsel

Laporan dari Afsel

Dubes RI: Indonesia Masih Melupakan Afsel

- detikNews
Selasa, 13 Des 2011 06:47 WIB
Pretoria - Duta Besar Indonesia untuk Afrika Selatan Sjahril Sabaruddin menilai selama ini Indonesia masih belum terlalu memperhitungkan negara Afrika Selatan. Padahal, sebagai negara paling maju di Benua Afrika, Afsel memiliki banyak potensi yang bisa digali. Terlebih, negeri yang pernah dipimpin oleh Nelson Mandela ini memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan Indonesia.

"Afsel adalah negara terkaya dalam ekonomi, dan negara dominan dalam politik di antara 53 negara-negara di Afrika," ungkap Sjahril Sabaruddin saat melakukan courtessy call dengan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat di Wisma Indonesia, Pretoria, Afrika Selatan, Senin (12/12/2011) malam.

Negara yang terletak di paling ujung selatan Benua Afrika ini sangat kaya akan sumber daya alam. Selain penghasil emas, Afsel juga pengekspor hasil-hasil pertanian. "Afsel kaya mineral, diamond, batu bara, uranium, gold, pengekspor hasil pertanian dan peternakan," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, menurut Sjahril, berdasarkan riset terbaru, Afsel dalam 15 tahun mendatang akan menjadi negara yang paling potensial untuk mengembangkan bisnis. "Riset menyebutkan Afsel dalam 15 tahun mendatang akan menjadi most potential business," ungkapnya.

Namun sayangnya hal ini tidak dipandang jeli oleh Indonesia. "Selama ini Indonesia masih melupakan Afsel, memandang sebelah mata. Padahal hubungan kita sangat dekat sekali," ujarnya.

Hubungan dekat antara RI-Afsel menurut Sjahril, dimulai sejak pendiri Republik Indonesia Soekarno juga memiliki hubungan baik dengan tokoh Afsel Nelson Mandela. Nelson Mandela waktu itu dianggap sebagai mitra baik Indonesia dan kerap mendukung langkah-langkah Indonesia. "Jadi kita secara politik baik," ujarnya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia menurut Sjahril sangat tertinggal sekali dalam hal menangkap peluang investasi. Singapura saja yang merupakan negara kecil, saat ini menjadi negara pengekspor santan terbesar di Afrika Selatan.

"Saat ini Singapura pengekspor terbesar santan. Padahal kalau kita lihat di Orchard Road, tidak ada pohon kelapa," katanya sambil tertawa.

Volume perdagangan Indonesia ke Afsel saat ini menurut Sjahril juga masih sangat kecil. Saat ini, volume perdagangan Indonesia di Afsel cuma US$ 1,2 miliar. "Harusnya US$ 5 miliar, karena kita kurang ekspor, kita kurang manfaatkan," katanya.

"Selama ini kita menganggap Afsel miskin, perang dan penyakit. Padahal, Afsel itu ibaratnya Eropa yang berada di Afrika," Sjahril mengibaratkan.



(anw/her)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads