"Afsel adalah negara terkaya dalam ekonomi, dan negara dominan dalam politik di antara 53 negara-negara di Afrika," ungkap Sjahril Sabaruddin saat melakukan courtessy call dengan Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat di Wisma Indonesia, Pretoria, Afrika Selatan, Senin (12/12/2011) malam.
Negara yang terletak di paling ujung selatan Benua Afrika ini sangat kaya akan sumber daya alam. Selain penghasil emas, Afsel juga pengekspor hasil-hasil pertanian. "Afsel kaya mineral, diamond, batu bara, uranium, gold, pengekspor hasil pertanian dan peternakan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sayangnya hal ini tidak dipandang jeli oleh Indonesia. "Selama ini Indonesia masih melupakan Afsel, memandang sebelah mata. Padahal hubungan kita sangat dekat sekali," ujarnya.
Hubungan dekat antara RI-Afsel menurut Sjahril, dimulai sejak pendiri Republik Indonesia Soekarno juga memiliki hubungan baik dengan tokoh Afsel Nelson Mandela. Nelson Mandela waktu itu dianggap sebagai mitra baik Indonesia dan kerap mendukung langkah-langkah Indonesia. "Jadi kita secara politik baik," ujarnya.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia menurut Sjahril sangat tertinggal sekali dalam hal menangkap peluang investasi. Singapura saja yang merupakan negara kecil, saat ini menjadi negara pengekspor santan terbesar di Afrika Selatan.
"Saat ini Singapura pengekspor terbesar santan. Padahal kalau kita lihat di Orchard Road, tidak ada pohon kelapa," katanya sambil tertawa.
Volume perdagangan Indonesia ke Afsel saat ini menurut Sjahril juga masih sangat kecil. Saat ini, volume perdagangan Indonesia di Afsel cuma US$ 1,2 miliar. "Harusnya US$ 5 miliar, karena kita kurang ekspor, kita kurang manfaatkan," katanya.
"Selama ini kita menganggap Afsel miskin, perang dan penyakit. Padahal, Afsel itu ibaratnya Eropa yang berada di Afrika," Sjahril mengibaratkan.
(anw/her)











































