Acara berlangsung pukul 20.00 malam waktu setempat atau sekitar pukul 01.00 WIB. Suasana akrab diselingi canda tawa mewarnai pertemuan tersebut.
Hadir dalam petemuan tersebut di antaranya Deputi Penempatan BNP2TKI Ade Adam Noch, Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi BNP2TKI Endang Sulistyaningsih, Kepala Biro Perencanaan BNP2TKI Agusdin Subiantoro, Pelaksana Tugas Direktur Promosi BNP2TKI, Dwi Anto, dan Sunarko dari Direktorat Kawasan Afrika Kementerian Luar Negeri, serta Tenaga Profesional Kepala BNP2TKI Bidang Media dan Komunikasi Publik, Mahmud F Rakasima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dubes RI untuk Afsel, saat ini Afrika Selatan masih belum banyak dilirik oleh Indonesia. Padahal, Afsel memiliki banyak potensi yang seharusnya bisa digarap oleh pemerintah atau pun para pengusaha Indonesia.
Sabaruddin mengatakan, Indonesia harus belajar banyak dari Cina yang dengan gencar mengembangkan sayap bisnis ke Afrika Selatan. Dia menceritakan, Cina saat ini banyak membangun pusat perbelanjaan di Afsel, dan menjual produk-produk asal Cina. Demikian juga para tenaga kerjanya, sebagian besar juga dari negeri tirai bambu.
"Di Johannesburg, banyak dibangun Cina Mall, itu barangnya semua dari Cina," kata Sabaruddin saat ramah tamah dengan rombongan BNP2TKI, Senin (12/12/2011) malam waktu setempat.
Dia menuturkan, subsidi pemerintah Cina dalam pengembangan bisnis di Afsel juga sangat luar biasa. Pemerintah Cina bahkan rela membangunkan mal, sementara untuk isinya dipercayakan kepada para pengusaha Cina.
"Mereka dapat subsidi dari pemerintah. Pemerintah membangun malnya, sementara pengusaha isinya," ujarnya.
Lebih lanjut, Sabaruddin menuturkan, tak cuma Cina saja yang gencar mengembangkan bisnis di Afsel, negara tetangga seperti Thailand pun juga terus berusaha menancapkan pengaruhnya di Afsel.
Sabaruddin berharap, hal serua juga dilakukan oleh Indonesia. Potensi-potensi ekonomi di Afsel juga harusnya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Indonesia.
Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat mengupayakan pemerintah Indonesia juga akan berperan aktif untuk membuka peluang penempatan tenaga kerja formal ke Afsel. Namun demikian, hal tersebut tentunya juga harus didukung sepenuhnya oleh para Duta Besar. Sebab para duta besar tidak cuma bertugas sebagai diplomat saja, melainkan juga berperan aktif dalam pelayanan terhadap perburuhan.
"Tidak cuma tugas diplomacy saja, malainkan juga service in labour. Jangan sampai semuanya mengglobal, tapi tenaga kerjanya tidak mengglobal," kata Jumhur dalam kesempatan yang sama.
Acara diakhiri dengan makan malam bersama dengan menu berbagai masakan khas Indonesia. Acara ini berlangsung kurang lebih satu setengah jam.
Adapun peluang kerja yang tersedia di Afsel yaitu konstruksi, perminyakan, pertambangan, transportasi, jasa (services), dan sebagainya.
Menurut data Pusat Penelitian dan Pengembangan Informasi BNP2TKI (Puslitfo), penempatan TKI formal ke Afsel pada 2011 berjumlah 105 orang yang seluruhnya laki-laki, meliputi berbagai jenis pekerjaan pada perusahaan di Afsel.
(anw/her)










































