Hotel itu hanya 20 meter dari pelataran terluar Masjid Nabawi. Tepatnya berada di pintu keluar 22, yang ada jam di tengah jalan.
Sementara itu, di langit sebelah timur, bulan tengah menjadi perhatian utama. Bayangan matahari menutupinya sejak senja hari, menampilkan keindahan luar biasa. Gerhana bulan tengah terjadi.
Sedangkan di Masjid Nabawi, imam masjid memimpin salat gerhana 2 rakaat dengan empat rukuk. Sungguh pemandangan syahdu bagi kloter 85, pulang ditemani gerhana bulan dan alunan merdu imam masjid.
Keistimewaan masih ada lagi. Kepergian mereka dilepas oleh Konjen RI di Jeddah, Zakaria Anshor, bersama pejabat Kementerian Haji Arab Saudi serta pejabat Muassasah Adila, korporasi yang melayani jamaah Indonesia di Madinah.
Kloter ini akan terbang ke Jakarta pada 23.50 WAS atau 03.50 WIB (Minggu 12 Desember WIB) dengan Saudi Arabia Airlines (Saudia) dari Bandara AMAA Madinah dan merupakan jamaah Indonesia kloter terakhir yang meninggalkan Kota Nabi itu. Setelah mereka, tak ada lagi jamaah Indonesia di kota suci kedua umat Islam ini.
"Alhamdulillah, pelaksanaan haji dari awal hingga akhir, jamaah kami semua sehat dan selamat," kata seorang ketua regu Kloter 85 JKS dari Cimahi, Asep Ridwan.
Asep dkk menikmati pemondokan yang menyenangkan di Misfalah, Makkah, dan di Madinah. Hanya saja katering di Madinah, sayurnya seringkali oseng buncis wortel. "Sampai ada istilah cis-tol," katanya sebelum pelepasan.
Untuk ke depan, dia berharap sayuran lebih bervariasi, dengan menambah sayur kangkung dan bayam. "Kalau air, buah dan besar porsi katering, sudah cukup," katanya.
Asep juga berharap kebijakan air zamzam yang ketat, diperlonggar. Saat ini jamaah dilarang membawa air zamzam dan mendapatkan bagian dari maskapai 5 liter setiba di debarkasi. "Kalau boleh, zamzam ditambah jadi 10 liter," harapnya.
Tiga hari ini, kata Asep, dia dkk kepikiran bagaimana bila membawa zamzam. Tapi akhirnya Asep dkk lebih memilih imbauan petugas haji untuk tidak membawa zamzam. "Kami hanya membawa tas tenteng dan tas paspor," katanya.
Sementara dalam upacara pelepasan di pedestrian di depan hotel, pejabat Muassasah Adila mengungkapkan kebahagiaan dan kehormatannya melayani tamu Allah dari Indonesia. Dia juga meminta maaf atas salah dan khilaf yang terjadi. Muassasah memberikan hadiah kepada jamaah berupa kurma dan tasbih."Mohon diterima dengan ikhlas," katanya.
Sedangkan Konjen RI di Jeddah, Zakaria Anshor, atas nama bangsa/pemerintah Indonesia mengucapkan terimakasih pada pemerintah Arab Saudi atas fasilitas dan kemudahan yang diberikan kepada jamaah Indonesia.
Usai pelepasan, saat ditanya soal aspirasi jamaah untuk dibolehkan membawa air zamzam atau mendapatkan dari maskapai sebanyak 10 liter, Zakaria menjawab bahwa aspirasi itu harus dibicarakan dengan berbagai pihak. Misalnya antara pihak penerbangan dan maktab zamazima yang mengelola sumur zamzam.
Sementara itu, pelepasan kloter terakhir itu menarik perhatian jamaah dari berbagai negara yang baru saja selesai salat isya. Mereka ingin tahu kok ada kerumunan di pedestrian. Begitu mereka melihat ada kamera-kamera televisi, mereka tak lupa melambaikan tangan.
Kerumunan ini bahkan membuat sebuah sedan polisi yang berjaga di sekitar Masjid Nabawi mendekat, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Setelah mendapat penjelasan dari staf muassasah, polisi maklum lantas meninggalkan lokasi.
Upacara pelepasan diakhiri dengan pembagian kurma dan tasbih di atas bus. Setelah itu bus bergerak satu per satu meninggalkan tanah haram. Lambaian tangan dari dalam dan luar bus bersahutan. Rasa haru meninggalkan kota suci, tempat makam manusia paling mulia Rasulullah SAW, terasa menyentak dada.
Dengan kepergian jamaah ini, maka berakhirlah operasi pemulangan jamaah haji Indonesia, kafilah haji terbesar sedunia. Semoga menjadi haji mabrur. Amin.
(nrl/mpr)











































