Perpanjangan masa tanggap darurat kali ketiga ini, tidak lagi ditangani oleh Basarnas yang telah memutuskan untuk menarik diri dari lokasi kejadian, melainkan cukup melibatkan Tim Basarda Kaltim serta Polda Kaltim, untuk meneruskan proses pencarian dan evakuasi. Perpanjangan masa tanggap darurat itu tertuang dalam SK Bupati Kutai Kartanegara bernomor : 726/SK BUPATI/HK/2011 Tanggal 9 Desember 2011.
“Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara memutuskan untuk memperpanjang masa tanggap darurat hingga 25 Desember 2011,” kata Bupati Kukar Rita Widyasari saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Posko Tim Pengendali Operasi yang berlokasi berdekatan dengan lokasi ambruknya jembatan, Jl Wolter Monginsidi, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Jumat (9/12/2011) malam WITA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Setelah Basarnas dan timnya tidak lagi di sini, Pemkab Kukar akan bekerjasama dengan pihak ketiga untuk merobohkan 2 tiang phylon jembatan, di mana berdasarkan pertimbangan teknis juga akan dilakukan dengan cara peledakan atau dengan cara penarikan kabel baja,” ujar Rita.
“Pemkab Kukar tengan mempersiapkan langkah-langkah tersebut agar titik jatuhnya ledakan itu, robohnya tidak ke tengah sungai melainkan roboh ke samping,” tambahnya.
Rita juga menyebutkan tengah mempertimbangkan kajian tim teknis bahwa rangka jembatan di dalam sungai berada 25 meter dari permukaan air sungai sehingga rangka jembatan tersebut tidak perlu untuk diangkat ke permukaan.
“Tapi apabila pihak ketiga (swasta) ini mengatakan mampu mengangkat rangka jembatan, maka kami akan mempertimbangkan akan mengangkatnya sebagai pertimbangan untuk menjadikannya bahan investigasi, untuk memberikan gambaran kepada masyarakat terkait kondisi jembatan sebenarnya terakhir kali,” terang Rita.
“Atau opsi lainnya kami akan melelang rangka jembatan itu untuk memasukannya ke kas daerah karena rangka baja jembatan seberat 1.620 ton itu bernilai Rp 4 miliar. Kalau swasta itu mampu mengangkat rangka jembatan dan kendaraan-kendaraan (di dalam sungai), maka kita akan angkat jembatan itu,”jelas Rita.
“Opsi lainnya adalah dengan memperkokoh konstruksi 2 tiang phylon jembatan tersebut serta menambah keindahannya dengan memasang hiasan lampu antar 2 tiang,” sebut Rita.
Berbagai rencana terkait 2 tiang phylon itu dimaksudkan agar jalur Sungai Mahakam di areal jembatan ambruk, aman untuk dilalui masyarakat yang bergantung pada jalur transportasi sungai.
“Sekarang besaran anggaran juga tengah diperhitungkan dari aspek hukum dan legalitasnya. Apakah diambil dari dana tanggap darurat APBD Kukar Rp 6 milar atau sumbangan dari para pengusaha. Karena para pengusaha juga kesulitan melintas sungai karena terancam dengan kondisi labil 2 tiang phylon jembatan,” kata Rita.
Masih dijelaskan Rita, pihak swasta yang sudah menyatakan kesiapannya terkait rencana berbagai opsi itu, berada di Surabaya. Diperlukan waktu 1 pekan ke depan untuk memobilisasi peralatan berat serta proses pekerjaan juga berlangsung 1 pekan.
“Semua itu kita tunggu kajian tim tekni dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kukar karena menurut BPPT masih terdapat belasan titik di dalam sungai yang diperkirakan terdapat korban meninggal di dalam titik yang diduga kendaraan,” tutup Rita.
Sekadar diketahui, Jembatan Kukar ambruk telah menewaskan 21 orang dan belasan orang lainnya masih dinyatakan hilang. Jembatan gantung dengan panjang 710 meter dan terpanjang di Indonesia itu baru berusia 10 tahun sejak resmi digunakan pada tahun 2001 lalu.
(anw/anw)










































