Basarnas Tak Berpengalaman Menyelam dengan Visibility Zero

Basarnas Tak Berpengalaman Menyelam dengan Visibility Zero

- detikNews
Jumat, 09 Des 2011 20:18 WIB
Basarnas Tak Berpengalaman Menyelam dengan Visibility Zero
Tenggarong - Badan SAR Nasional (Basarnas) mengakui kesulitan untuk menyelam di perairan Sungai Mahakam, di lokasi ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar). Menyelam dengan kecepatan arus rata-rata di atas 1 knot serta feasibility zero di bawah permukaan air sungai, belum pernah dialami oleh tim Basarnas.

"Tim SAR belum pernah menyelam dengan Visibility zero , di bawah air tidak bisa melihat apa-apa," kata Deputi Potensi Basarnas Marsekal Muda Sukarto saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di lokasi ambruknya Jembatan Kukar, Jumat (9/12/2011) malam.

Dengan pengalaman tim SAR menyelam di perairan Sungai Mahakam seperti itu, menurut Sukarto akan melakukan evaluasi menyeluruh, sekaligus memanfaatkan teknologi lainnya untuk memudahkan tim SAR di kemudian hari melakukan proses evakuasi sejenis di perairan di seluruh Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan pengalaman ini, dari Basarnas akan mengadakan peralatan yang mampu mendeteksi korban atau metal kemudian lampu penerangan yang mampu menembus feasibility zero tersebut," ujar Sukarto.

Meski demikian, sambung Sukarto, masa tanggap darurat terkait insiden ambruknya Jembatan Kukar, masih terus dilanjutkan. Hanya saja, Basarnas akan memulangkan seluruh tim penyelam yang didatangkan dari Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur, diantaranya dari Korps Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL.

"Tanggap darurat masih berlanjut. Beberapa tim evakuasi dari Jakarta dan Surabaya ditarik pulang. Namun demikian proses evakuasi akan dilanjutkan dengan tim yang ada. Baik itu Polro maupun tim SAR Kaltim yang berkantor di Balikpapan."

Masih dijelaskan oleh Sukarto, sejak jembatan tersebut ambruk, tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan 3 kali pemotretan di bawah permukaan Sungai Mahakam, di lokasi ambruknya jembatan.

"Dari foto sonar 3 dimensi yang dilakukan BPPT, dari foto pertama dan kedua ada pergeseran objek sejauh 100 meter. Sudah difotokan sampai 3 kali. Tapi yang pertama dan kedua, lebih akurat. Yang diduga kendaraan di dalam sungai ada 13 titik,โ€ terang Sukarto.

โ€œSedangkan posisi jembatan saat ini patah 3 bagian. Terkait korban yang masih berada di mobil, akan bisa ditangani. Kebetulan jenazah tidak bisa dimonitor oleh alat BPPT. Kita fokus di kendaraan yang berada di bawah permukaan air,โ€ tutup Sukarto.

Diberitakan sebelumnya, Jembatan Kukar ambruk 26 November 2011 lalu. Sebanyak 21 orang meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka. Kepolisian pun bergegas melalukan pengusutan dengan meminta keterangan berbagai pihak yang terkait dengan pembangunan jembatan tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pun menyebut insiden ambruknya jembatan tersebut sebagai insiden langka. Mengingat jembatan gantung terpanjang di Indonesia dengan panjang 710 meter itu, baru berusia 10 tahun sejak resmi digunakan tahun 2001 lalu.


(anw/anw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads