Bali Democracy Forum IV, Demokrasi Adalah Proses yang Tiada Habisnya

Bali Democracy Forum IV, Demokrasi Adalah Proses yang Tiada Habisnya

- detikNews
Jumat, 09 Des 2011 18:55 WIB
Nusa Dua - Bali Democracy Forum (BDF) IV telah resmi ditutup oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa. Forum diskusi antarpemerintah ini menekankan demokrasi merupakan sebuah proses yang tiada habisnya dan harus selalu dibangun.

BDF IV digelar selama 2 hari, yakni pada 8-9 Desember di Nusantara Room. Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua. Untuk tahun ini, BDF dihadiri oleh 40 negara peserta dan 42 negara peninjau.

Dalam setiap pembahasan yang dilakukan, para negara peserta yang hadir dipersilakan menyampaikan pengalaman maupun pemikiran masing-masing soal demokrasi di negaranya. Dan dari pembahasan tersebut disepakati sejumlah hal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Demokrasi adalah suatu proses yang tiada habisnya. Tidak akan pernah kita mampu mengatakan bahwa upaya pembangunan demokrasi telah kita selesaikan," ujar Marty saat menutup BDF IV di Nusantara Room, BICC, Nusa Dua, Jumat (9/12/2011).

Selain itu, para delegasi yang hadir menyepakati pembangunan demokrasi harus didasarkan pada penegakan hukum, pemerintahan yang baik, kebebasan pers dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut mereka, pembangunan demokrasi di setiap negara berbeda-beda, berdasarkan karakter dan nilai masing-masing bangsa. Berdasarkan latar belakang politik, ekonomi dan sosial masing-masing negara. Tidak ada satu model demokrasi yang berlaku bagi semua masyarakat.

"Komitmen terhadap prinsip-prinsip demokrasi adalah satu universal, bahwa kita semua memiliki komitmen yang besar pada gagasan demokratis dan keinginan yang kuat untuk mengungkapkan bahwa ide demokrasi sangat mungkin dibangun dalam kondisi kita masing-masing," terang Marty.

Para delegasi setuju bahwa demokrasi bukanlah merepresentasikan keinginan kelompok mayoritas, melainkan lebih tepat dengan merespon aspirasi rakyat banyak. Menurut para delegasi, upaya pembangunan partisipasi demokratis selalu memiliki tantangan. Yang harus dilakukan ialah menghadapi tantangan tersebut dengan cara yang demokratis pula.

Para delegasi percaya, bahwa sebuah negara yang memiliki demokrasi kuat, niscaya akan mampu mengatasi permasalahan dan tantangan zaman. Demokrasi tidak hanya mengurangi kemiskinan dan kelemahan ekonomi, namun juga membuka kesempatan yang lebih luas akan perkembangan ekonomi, sosial dan politik itu sendiri.

Digarisbawahi juga pentingnya dibangun disiplin demokratis. Dimana setiap delegasi menyetujui bahwa masyarakat demokratis akan secara dewasa menerima hasil pemilu, sekalipun oposisi yang unggul.

Menurut para delegasi, demokrasi adalah sebuah proses yang dinamis. Dalam menghadapi perkembangan dunia global, demokrasi juga bisa terus berkembang.

Selain itu, peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam pembangunan demokrasi. Dan di sisi lain, negara harus mampu menyediakan ruang yang cukup untuk rakyatnya beraspirasi.

"Kita harus mempertajam kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan masyarakat," tandas Marty.

BDF IV ini mengambil tema 'Enhancing Democratic Participation in a Changing World: Responding to Democratic Voices' (Peningkatan Partisipasi Demokratis dalam Suatu Dunia yang Berubah: Merespon Suara-Suara Demokratis). Ada 2 tema utama yang menjadi pokok bahasan, yakni 'The Ability of State to Respond to the Voice of Democracy' (Kemampuan Negara Merespon Suara Demokratis) dan 'Ensuring Democratic Space for Civil Society Participation' (Memastikan Cukup Ruang untuk Partisipasi Masyarakat Madani).

(nvc/mok)


Berita Terkait