Aneka Kisah Kunker DPR, dari Urusan Perut Sampai Urusan 'Bawah Perut'

Aneka Kisah Kunker DPR, dari Urusan Perut Sampai Urusan 'Bawah Perut'

- detikNews
Jumat, 09 Des 2011 13:52 WIB
Jakarta - Banyak kisah menarik yang didengar dari para anggota Dewan saat melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Setiap kali kunjungan kerja (kunker) anggota DPR ke luar negeri, media selalu memberitakan dengan berbagai sudut pandang. Sejumlah tokoh dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga turut berkomentar. Mereka menganggap kunker hanya pelesiran dan buang-buang duit belaka. Namun, ada juga anggota Dewan yang enggan pergi ke luar negeri dengan berbagai alasan. Tapi yang menarik adalah kisah-kisah yang menyertainya.

Menteri Pertanian Suswono ketika menjadi anggota Komisi IV mengisahkan, ada anggota Dewan yang setiap kali kunker ke luar negeri harus selalu membawa rice cooker, yakni alat masak portabel yang bisa dibawa ke mana-mana.

"Anggota Dewan itu tidak tahan kalau tidak makan nasi, padahal sudah makan roti dua gepok," katanya sambil tersenyum. Anggota Dewan tersebut sampai sekarang masih duduk di Komisi IV.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi selain urusan perut, soal urusan "bawah perut" juga tidak kalah serunya. Beberapa anggota Dewan ada pula yang membawa isteri saat kunker ke luar negeri, termasuk Wakil Ketua DPR dari FPDIP Pramono Anung. Sebagian orang menyoroti perilaku ini. Tapi anggota Dewan punya alasan mengapa mereka harus bawa isteri.

"Kalau tidak bawa isteri, terus di luar negeri melakukan perbuatan tercela, lebih ; bahaya lagi," kata anggota Badan Kehormatan dari F-PKS Anshory Siregar.

Anhsory malah tidak setuju bila ada aturan kunker dilarang membawa isteri.Ya, harap maklumlah, kunker ke luar negeri bisa memakan waktu sampai tujuh hari. Puyeng juga kan kalau "puasa" berlama-lama. Ketua DPR Marzuki Alie termasuk yang membela pendapat Anshory. "Kan ada juga anggota Dewan yang ingin rutin (berhubungan intim dengan isteri)," katanya.

Namun ada juga yang keberatan membawa isteri, dengan alasan justru kasihan sama isterinya. Sebab, bila ada kegiatan, sang ; isteri tidak mungkin terus dibawa-bawa mengikuti kegiatan suaminya. "Kalau mau ditinggal di hotel sendirian, kan kasihan juga," kata anggota Komisi IV dari FPD Djoko Udjianto.

Apalagi bila jadwal kunker itu padat, isteri-isteri anggota Dewan itu bisa jadi malah bosan juga.

Kisah lain adalah soal dana akomodasi dan transportasi. Ada lho, yang tak tahu diri. Seorang anggota Dewan yang enggan disebutkan namanya bercerita pada Jurnalparlemen.com, ada sahabat sesama anggota Dewan yang tidak ikut kunker tapi mengambil duitnya. Kok bisa?

"Jadi saat di airport, yang lain siap-siap berangkat, anggota Dewan yang satu ini datang hanya untuk mengambil jatah dia, tapi ; tidak ikut pergi," ujarnya. Gampangnya, dia mau ambil mentahnya saja, tapi ogah kunkernya. Lagi pula dia bisa ngomong ke mana-mana, demi citra dirinya: "Saya nggak ikut kunker ke luar negeri, lho."
(asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads