"Ya bisa saja ada oknum," kata Direktur IV Narkoba Mabes Polri, Brigjen Arman Depari, kepada detikcom, Jumat (9/12/2011).
Arman mengatakan kampung narkoba merupakan satu kompleks yang besar sehingga aparat Kepolisian memerlukan tenaga yang banyak dan biaya yang besar untuk bisa membongkar kampung tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebocoran informasi akan adanya operasi di kampung tersebut menjadi salah satu faktor jaringan narkoba tidak tersentuh. "Begitu kita masuk, ternyata orangnya sudah pada kabur dan operasi bubar," katanya.
Menurut dia, kampung narkoba dilengkapi dengan pengamanan yang ekstra mulai dari CCTV, informan di depan kompleks hingga senjata api. Bahkan, informan jaringan narkoba yang menyamar jadi tukang ojek atau lainnya mengawasi ketat setiap orang yang masuk ke lokasi. "Kalau ada orang asing yang masuk, mereka selalu curiga," kata Arman.
Jaringan di lokasi tidak gampangan menjual narkoba ke pembeli baru. Hanya pembeli lama yang mudah masuk ke lokasi. "Mereka pasti mengecek dulu identitasnya, dari mana. Tidak sembarangan mereka jual narkoba ke pembeli baru," ujarnya.
Arman melanjutkan, praktik jual-beli narkoba di lokasi sudah diketahui warga. Namun, warga sekitar juga tidak ada yang berani melapor ke aparat polisi. "Memang tidak semua yang tinggal di kompleks itu adalah pengedar. Di samping warganya takut karena diancam, bisa jadi warga juga menjadi bagian dari mereka," jelasnya.
Penggerebekan besar yang dilakukan aparat gabungan tidak menjamin narkoba di kampung tersebut habis. selain melakukan tindakan represif, aparat polisi juga melakukan tindakan preventif. "Ini memerlukan kerjasama semua pihak mulai dari pihak walikota dan kepolisian untuk menumbuhkan antinarkoba. Warga harus berani melawan narkoba," tutupnya.
(mei/aan)











































