Data yang dihimpun dari Pemprov Riau, dari 12 kabupaten dan kota Riau, lebih saparohnya sudah KLB DBD. Terhitung 7 Januari hingga 7 Desember 2011, terdapat 2.689 kasus yang menyebar seluruhnya di Riau. Dari jumlah itu, 63 orang yang terkena DBD meninggal dunia.
"Ini merupakan hasil investigasi dan survei Dinas Kesehatan Riau selama setahun. Dengan meluasnya kasus DBD di Riau perlu diketahui bahwa menemukan kasus DBD secara dini bukanlah hal yang mudah. Karena pada awal perjalannya penyakit dan gejalan tidak spesipik sehingga sulit membedakan dengan penyakit infeksi lainnya," demikian disampaikan Kepala Biro Humas Pemprov Riau, Chairul Riski kepada detikcom, Kamis (8/12/2011) di Pekanbaru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puncak DBD di Riau terjadi pada Oktober 2011 yang menyebar di seluruh kabupaten dan kota. Sedangkan pada bulan November 20011 secara kumulatif terjadi penurunan.
"Kita sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah bupati yang daerahnya bertatus KLB. Kita sudah meminta agar masyarakat melakukan pembersihan di sekitar lingkungan rumahnya. Terutama tempat-tempat genangan air yang berpotensi menimbulkan jentik air," kata Riski.
Sementara itu masyarakat Pekanbaru sendiri meresahkan penyebaran DBD yang kian tidak terkendali. Masyarakat sangat susah untuk meminta bantuan fogging, karena aturan yang ditetapkan pemerintah, foging hanya bisa dilakukan setelah ada kasus di daerah tersebut.
"Inikan aneh, pemerintah tidak bersedia melakukan foging di lingkungan rumah kita, tanpa ada kasus. Kalau belum ada warga yang terserang DBD, pihak Puskesmas tidak bersedia. Ini namanya bukan pencegahan DBD," kata Indrayanto, warga Pekanbaru kepada detikcom.
(cha/anw)











































