Munculnya kekhawatiran reformasi hanya di permukaan saja dan keterbukaan rezim militer di Myanmar hanya sekadar kedok saja, dinilai wajar terjadi.
"Ada kekhawatiran seperti itu dan saya kira kekhawatiran ini pasti tetap akan ada. Karena masyarakat dunia juga akan melihat sejauh mana perkembangan-perkembangan di Myanmar itu menuju ke arah demokratisasi," ujar pengamat politik internasional dari LIPI, Dewi Fortuna Anwar kepada wartawan usai Lokakarya Bali Democracy Forum: Peran Masyarakat Sipil dan Media Sosial dalam Partisipasi Berdemokrasi di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelihatan mereka serius. Mereka sudah membebaskan Aung San Suu Kyi, sekarang malahan memberi peluang bagi beliau untuk kembali terlibat dalam kehidupan politik. Mereka juga membebaskan tahanan politik, meskipun masih banyak juga tahanan politik lain dan malahan sekarang sudah memberi hak untuk melakukan demonstrasi," terang Dewi.
Dewi menilai, Myanmar memiliki peluang emas untuk membuktikan diri apakah mereka serius melakukan reformasi. Myanmar diberi peluang untuk menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2014 mendatang.
"Nah, ini peluang bagi kita untuk ASEAN dan masyarakat internasional pada umumnya untuk betul-betul mengawal Myanmar pada umumnya. Lho Anda (Myanmar) mau jadi Ketua ASEAN, jangan bikin malu kita," ucapnya.
"Jadi kita gunakan ini momentumnya untuk memastikan bahwa barangkali tadi perubahannya kosmetik itu menjadi perubahan yang lebih fundamental yang sifatnya irreplaceable," tandas Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik.
(nvc/mok)










































