Gelombang Tinggi, Nelayan Pantura Berhenti Melaut

Gelombang Tinggi, Nelayan Pantura Berhenti Melaut

- detikNews
Rabu, 07 Des 2011 17:10 WIB
Brebes - Ratusan Nelayan di sepanjang Pantura Brebes, Tegal hingga Pemalang, Jawa Tengah kini menghentikan aktivitas melaut karena kondisi di perairan Laut Jawa masih terjadi gelombang tinggi. Sebagian para nelayan ini besar menghabiskan waktu dengan memperbaiki jaring serta alat tangkap. Sementara sebagian lainnya lebih memilih beralih profesi menjadi kuli bangunan.

"Sudah dua pekan kami menghentikan aktivitas melaut karena cuaca yang tiudak menentu serta gelombang tinggi dit engah periran Laut Jawa yang mencapai dua meter lebih," kata Sumito (45), ketua kelompok Nelayan "Pari Reja" Desa Wanasari, Kabupaten Brebes. Menurutnya di Brebes lebih dari 40 kapal lebih memilih menyandarkan diri karena menghindari risiko karam akibat gelombang Laut Jawa yang meninggi.

Hal yang sama juga di kemukakan oleh Apit Suherman (38), nelayan asal Desa Kramat, kabupaten Tegal. Ditemui detikcom di dermaga pendaratan ikan Munjung Agung, Apit mengaku bersama rekan-relan lain sesama nelayan memutuskan untuk berhenti melaut sejak sepakan terakhir. "Selain gelombang yang tinggi, angin yang berhembus di perairan Laut Jawa juga tidak stabil. Takut kalau bukan ikan yang didapat tapi musibah," ucap Apit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Apit , dari sekitar 130 perahu jenis cantran dan sopek yang biasa melaut di sepanjang kawasan Pantai Tegal hingga Pemalang, hanya sekitar 20 persennya yang masih berani melaut. Itupun karena mereka sudah tanggung berada di tengah perairan dan hanya menunggu perjalanan pulang.

Sebagian besar nelayan di kawasan ini mengandalkan kapal sopek dan cantrang untuk mencari ikan. Mereka hanya mencari ikan di daerah pinggiran dengan lama waktu pencarian hanya berkisar 1 hingga 2 minggu.

"Dari sekitar 80 kapal dan nelayan yang berhenti melaut, 30 persennya menghabiskan waktu dengan memperbaiki peralatan tangkap mereka sambil menunggu cuaca membaik. Sementara sebagian lainnya lebih memilih beralih profesi menjadi kuli serabutan untuk mempertahankan hidup," tegas Apit lagi.

(anw/anw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini