"Sudah dua pekan kami menghentikan aktivitas melaut karena cuaca yang tiudak menentu serta gelombang tinggi dit engah periran Laut Jawa yang mencapai dua meter lebih," kata Sumito (45), ketua kelompok Nelayan "Pari Reja" Desa Wanasari, Kabupaten Brebes. Menurutnya di Brebes lebih dari 40 kapal lebih memilih menyandarkan diri karena menghindari risiko karam akibat gelombang Laut Jawa yang meninggi.
Hal yang sama juga di kemukakan oleh Apit Suherman (38), nelayan asal Desa Kramat, kabupaten Tegal. Ditemui detikcom di dermaga pendaratan ikan Munjung Agung, Apit mengaku bersama rekan-relan lain sesama nelayan memutuskan untuk berhenti melaut sejak sepakan terakhir. "Selain gelombang yang tinggi, angin yang berhembus di perairan Laut Jawa juga tidak stabil. Takut kalau bukan ikan yang didapat tapi musibah," ucap Apit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar nelayan di kawasan ini mengandalkan kapal sopek dan cantrang untuk mencari ikan. Mereka hanya mencari ikan di daerah pinggiran dengan lama waktu pencarian hanya berkisar 1 hingga 2 minggu.
"Dari sekitar 80 kapal dan nelayan yang berhenti melaut, 30 persennya menghabiskan waktu dengan memperbaiki peralatan tangkap mereka sambil menunggu cuaca membaik. Sementara sebagian lainnya lebih memilih beralih profesi menjadi kuli serabutan untuk mempertahankan hidup," tegas Apit lagi.
(anw/anw)










































