"Saya sudah biasa ngojek disini, sebelum di skorsing oleh Nikko saya juga sudah ngojek, tapi semenjak 6 bulan lalu jadi pekerjaan utamanya ngojek di sini," kata Rafli kepada detikcom saat ditemui di pangkalan ojek Gambir, Jalan Medan Merdeka Timur, Rabu (7/12/2011).
Rafli menawarkan jasa ojeknya di pangkalan ojek pintu utama Stasiun Gambir (depan Galeri Nasional).
Mengenakan topi dan jaket abu-abu. Rafli tampak aktif mencari penumpang. Hal ini dilakukannya untuk menghidupi anak dan istrinya.
Atas kasus yang menjeratnya, status resmi Rafli diskorsing hingga ada putusan pengadilan. Oleh sebab itu dia masih mendapat gaji dan tunjangan kesehatan dari Hotel Nikko. Namun diakuinya, gaji tersebut habis untuk mencicil utangnya ke pihak manajemen Hotel Nikko.
"Saya masih dapat gaji dan tunjangan kesehatan, tapi uangnya langsung habis untuk bayar utang ke wisma (Nikko). Jadi saya cuma ngandelin hasil ojek," ungkap Rafli.
Pendapatan per harinya sebagai tukang ojek tidak menentu. Rafli maksimal mendapatkan Rp 40 ribu per hari. "Paling banyak saya dapat 35 sampai 40 ribu," jelasnya.
Ditanya kasus yang menimpanya, ayah 2 orang anak ini menjawab sangat berhati-hati. Dengan nada pelan dan datar dia menjawab, "Saya difitnah. saya ingin semua ini segera berakhir," kisah pria yang tinggi di Tebet ini.
Seperti diketahui, manajemen hotel menuding Heri, Wahyu, Rafli, Arif, Karna dan Sandar secara bersama-sama melakukan pencurian daging sapi dengan modus mengelabui laporan keuangan. Misalnya dalam satu bulan daging yang terpakai 100 kg, namun mereka melaporkan daging yang terpakai mencapai 200 kg. Daging tersebut lalu mereka jual ke pasar.
"Mereka melakukan secara terus menerus. Baru ketahuan belakangan," kata Kepala HRD PT Wisma Nusantara Internasional, Zulhansyah Caesar.
Tindakan ini dilakukan berulang-ulang. Setiap hari mereka mengambil daging dari restoran sekitar 50 kg. Hingga berlangsung selama 7 bulan maka mencapai 1,4 ton daging sapi. Atas tindakan ini mereka terancam dengan pasal 362 KUHP tentang pencurian.
"Yang mengambil dagingnya Heri lalu dititipkan ke rumahnya Heri. Lantas Heri menjual ke pasar," terang Direktur HRD PT Wisma Nusantara Internasional, Robi Tambunan.
(asp/anw)











































