Namun kecakepan itu tak mampu menutupi mimik wajah mereka yang senada: cemas dan panik.
"Cuma entuk nggowo siji, yok opo iki? (Cuma boleh bawa satu, bagaimana ini?)," ujar seorang jamaah perempuan sembari membawa mundur bawaannya yang bererotan. Petugas Saudi Arabian Airlines baru saja melarangnya masuk terminal 5 Bandara AMAA Madinah karena tentengannya terlalu banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang petugas maskapai lainnya mondar-mandir sembari membawa gunting kecil. Dia lantas menggunting lakban yang melingkari sebuah panci putih milik jamaah perempuan yang juga sedang bingung mengurangi bawaannya. Maksudnya, panci itu tak perlu dibawa.
"Pak, ini oleh-oleh," jelas pemilik panci dengan nada menghiba.
"Masak oleh-oleh panci," jawab petugas maskapai.
"Ini saya bawa dari Indonesia," jawab jamaah itu.
"Kalau gitu beli lagi saja setiba di sana," jawab petugas.
"Ya Allah, piye iki?" timpal jamaah itu dengan suara bergetar.
Di dalam panci itu ternyata ada oleh-oleh kecil. Oleh-oleh itu lantas dimasukkan tas, sedang panci ditinggal.
Seorang jamaah perempuan lainnya yang kebanyakan tas "berkonsultasi" pada seorang Petugas Panitia Ibadah Haji (PPIH) perempuan dari Daerah Kerja Madinah yang turut mengawasi.
"Ini boleh kan saya bawa? Tas ini isinya celana dalam kotor semua, masak saya tinggal di sini?" kata ibu itu dengan nada memohon sembari memperlihatkan isi tas ransel kainnya. Karena lebih memilih "daleman kotor" itu, ibu itu lantas meninggalkan barang-barangnya yang lain.
Petugas maskapai bermegafon kembali berhalo-halo. "Tolong diperhatikan bawaanya. Tidak boleh membawa air zamzam dan hanya tas Saudi Arabian yang boleh masuk," ujarnya.
Seorang ibu lainnya membawa tentengan hingga 5 tas. "Tulung Pak, Bu," pintanya pada petugas PPIH yang berupaya membantunya memilah barang yang layak dibawa.
"Baju dari Indonesia tidak usah dibawa," saran petugas PPIH.
"Sudah saya tinggal semua di hotel," jawabnya galau.
Akhirnya dia meninggalkan selusin minuman jus jeruk kotak, roti-roti seharga 1 riyal, dan air zamzam. Sebagian coklat juga ditinggalkan bersama wadahnya. Jatah makan siang yang dibagikan di hotel juga ditinggal.
Tapi tasnya tetap kebanyakan. Dia bongkar lagi. Ternyata ada seplastik gelas plastik cup plus sendok plastik sekali pakai berharga murah, yang biasa disajikan di penginapan.
"Ini nggak usah dibawa," saran petugas.
"Itu buat dolanan putu (cucu)-ku," jawab ibu itu agak malu-malu.
Berbagai barang yang ada di Indonesia lantas dikeluarkan. Boneka - yang sebenarnya juga ada di Indonesia - dia pertahankan karena spesial untuk cucunya.
"Ini apa? Ditinggal saja ini," kata petugas sembari mengambil kotak kecil warna cokelat bertuliskan merek dodol dari Kudus.
"Itu jenang (dodol)," jawab si ibu, galau sambil tersipu.
Setelah tas bisa diungkret lebih sedikit, ibu itu lega. Dia berterimakasih sembari mencium pipi kanan kiri petugas perempuan yang membantunya.
Kaum ibu rata-rata membawa boneka untuk cucunya. Agar boneka kebawa, akhirnya bungkus-bungkusnya dibuang dan boneka dicemplungkan ke tas atau ditenteng.
Petugas PPIH mengingatkan ibu-ibu agar berhati-hati memilah barangnya, jangan sampai ada perhiasan emas yang malah ditinggal. Tapi rata-rata jawaban jamaah adalah,"Saya nggak beli."
Haryoto, petugas PPIH yang ditempatkan sebagai petugas keamanan di Sektor Airport, menuturkan, jamaah dari embarkasi Surabaya selalu membawa barang bawaan yang melimpah. Akibatnya, sebagian harus ditinggal dan mendapat label barang tercecer (barcer).
Bandara AMAA Madinah saat ini hanya memulangkan jamaah dari embarkasi Surabaya (SUB), Jakarta-Saudi (JKS) dan Jakarta-Garuda (JKG). Sedang pemulangan jamaah embarkasi Batam
(BTH) telah berakhir.
"Kalau jamaah JKG enak, barang tercecernya sedikit. Saya nggak tahu kenapa SUB selalu banyak," katanya sembari menunjuk barcer dari JKG yang rata-rata berupa troli kecil dan air zamzam galon/jeriken. Di dekatnya, terdapat dua gunungan barcer dari embarkasi SUB.
Jauh hari, PPIH telah mensosialisasikan bahwa tas yang boleh masuk kabin adalah tas tenteng berlogo maskapai dengan berat maksimal 7 kg dan tas paspor yang dikalungkan. Tapi jamaah sering membawa berlebih, sebagaimana yang terjadi pada kloter 78 SUB tersebut.
(nrl/mad)











































